Ilustrasi - emas batangan (Foto: Pixabay)
JAKARTA - Badan Pusat Statistika menyatakan bahwa komoditas emas mengalami deflasi pada Maret 2026 usai konsisten mencatatkan inflasi selama 30 bulan berturut-turut.
Hal ini disampaikan oleh Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (1/4/2026).
"Komoditas emas perhiasan mengalami deflasi. Selama 30 bulan berturut-turut mengalami inflasi, baru saat ini komoditas emas mengalami deflasi," kata Ateng, dikutip dari Antara.
BPS mencatat bahwa tingkat deflasi emas pada Maret 2026 tercatat sebesar 1,17 persen (month-to-month/mtm) dengan andil terhadap inflasi umum sebesar 0,03 persen.
Dengan rekor deflasi tersebut, emas perhiasan menjadi komoditas yang memberikan andil deflasi terdalam terhadap kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, dengan kontribusi deflasi sebesar 0,37 persen.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya pun menjadi salah satu kelompok utama penyumbang deflasi Maret 2026, dengan tingkat deflasi sebesar 0,21 persen dan andil deflasi sebesar 0,01 persen.
BPS juga menyatakan bahwa tingkat deflasi kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya pada Maret 2026 merupakan yang terendah dalam empat tahun terakhir.
Adapun inflasi bulanan pada Maret 2026 turun menjadi 0,41 persen (mtm) dari sebelumnya 0,68 persen (mtm) pada Februari 2026.
Sementara Indeks Harga Konsumen (IHK) meningkat dari 110,57 pada Februari 2026 menjadi 110,95 pada Maret 2026.
Kelompok pengeluaran penyumbang inflasi bulanan terbesar adalah makanan, minuman, dan tembakau dengan inflasi 1,07 persen dan memberikan andil inflasi sebesar 0,32 persen.
Komoditas yang dominan mendorong inflasi kelompok pengeluaran tersebut adalah ikan segar, daging ayam ras, beras, telur ayam ras, cabai rawit, minyak goreng serta daging sapi.
Selain itu, terdapat komoditas yang masih memberikan andil deflasi pada Maret 2026, di antaranya tarif angkutan udara dan emas perhiasan, masing-masing sebesar 0,03 persen.
Sedangkan secara tahunan, perekonomian Indonesia mengalami inflasi sebesar 3,48 persen (year-on-year/yoy). Adapun inflasi tahun kalender tercatat 0,94 persen (year-to-date/ytd).