Presiden A.S. Donald Trump memberikan sambutan kepada pasukan AS (Foto: Reuters)
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan bahwa pasukan AS akan ditarik meninggalkan Iran dalam dua hingga tiga pekan kedepan.
Pernyataan ini menandai berakhirnya serangan di Iran yang dimulai sejak 28 Februari lalu.
"Yang harus saya lakukan hanya meninggalkan Iran, dan kami akan segera melakukannya," kata Trump kepada wartawan pada Selasa (31/3/2026).
"Kami akan segera pergi," katanya, seraya menambahkan hal itu akan terjadi dalam "mungkin dua minggu, mungkin tiga minggu."
Selain itu, Trump menyatakan bahwa jika Prancis atau negara lain berniat memperoleh minyak atau gas, mereka harus melewati Selat Hormuz.
Ia berpendapat bahwa negara-negara tersebut akan mampu membela diri mereka sendiri dan meyakini kawasan itu akan sangat aman, namun ia menegaskan bahwa pihaknya tidak memiliki kaitan dengan urusan tersebut.
Diketahui, AS dan Israel telah melakukan serangan udara terhadap Iran sejak 28 Februari, yang hingga kini menewaskan lebih dari 1.340 orang, menurut pemerintah Iran.
Iran membalas dengan serangan drone dan rudal ke Israel serta sejumlah wilayah yang menampung aset militer AS di negara-negara Teluk.
Menurut data resmi AS, sedikitnya 13 prajurit mereka telah tewas sejak perang dimulai. Konflik tersebut juga mendorong kenaikan harga energi dan mengganggu pelayaran di Selat Hormuz, jalur penting bagi pengiriman minyak global.
Lebih lanjut, Trump juga mengeklaim tujuan pemerintahan AS untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir telah tercapai.
"Mereka tak akan memiliki senjata nuklir. Dan tujuan itu telah tercapai," katanya.
Serangan AS sangat melemahkan kemampuan militer Iran, kata Trump, seraya menambahkan bahwa Iran memerlukan `15 hingga 20 tahun" untuk membangun lagi kekuatannya.
"Jika mereka datang ke meja perundingan, itu bagus. Tetapi tak masalah mereka datang atau tidak, kami telah membuat mereka mundur," ujarnya.
Trump juga mengeklaim telah terjadi "perubahan rezim" di Iran dengan merujuk pada tewasnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
"Kami telah menjatuhkan satu rezim, lalu menjatuhkan rezim kedua. Sekarang ada kelompok yang sangat berbeda," katanya. "Menurut saya, mereka jauh lebih moderat."