Ilustrasi - kurma (Foto: Klikdokter)
JAKARTA - Setiap datang bulan Ramadan, umat Islam berusaha meneladani kebiasaan berbuka Rasulullah Muhammad. Tidak seperti kebiasaan sekarang yang sering dipenuhi aneka gorengan dan makanan berat, cara berbuka Nabi justru sederhana dan teratur.
Beliau menganjurkan agar puasa segera dibatalkan ketika waktu magrib tiba, tetapi dengan makanan yang ringan terlebih dahulu sebelum makan besar. Tradisi ini dikenal sebagai ta’jil, yaitu menyegerakan berbuka.
Makanan pertama yang paling dikenal dari kebiasaan berbuka Rasulullah adalah kurma. Dalam hadis riwayat Abu Dawud disebutkan:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَتَمَرَاتٌ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَمَرَاتٌ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ
Artinya: “Rasulullah berbuka dengan beberapa kurma segar sebelum salat. Jika tidak ada kurma segar maka dengan kurma kering, dan jika tidak ada maka beliau meneguk air.”
Hadis ini menunjukkan urutan berbuka Nabi: kurma segar, kurma kering, lalu air. Kurma menjadi pilihan utama karena cepat mengembalikan energi setelah seharian berpuasa.
Jika kurma tidak tersedia, Rasulullah cukup meminum air. Kebiasaan ini menunjukkan bahwa berbuka tidak harus langsung makan berat. Setelah berbuka ringan, beliau melaksanakan salat Magrib terlebih dahulu.
Pola ini membuat tubuh beradaptasi secara bertahap setelah menahan lapar dan haus. Para ulama menjelaskan cara tersebut baik untuk pencernaan karena lambung tidak langsung menerima makanan dalam jumlah besar.
Selain kurma dan air, Rasulullah juga mengonsumsi susu. Dalam sejumlah riwayat, beliau pernah meminum susu kambing yang diberikan sahabat. Susu berfungsi sebagai sumber cairan sekaligus nutrisi sehingga membantu memulihkan tenaga setelah puasa. Ketika meminum susu, beliau membaca doa:
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَزِدْنَا مِنْهُ
Artinya: “Ya Allah, berkahilah kami padanya dan tambahkanlah untuk kami darinya.”
Untuk makanan pendamping, Rasulullah kadang memakan roti gandum atau tsarid, yakni roti yang disiram kuah daging. Ini merupakan makanan pokok masyarakat Arab saat itu. Dalam hadis riwayat Muslim juga disebutkan beliau pernah memakan roti dengan cuka:
نِعْمَ الْإِدَامُ الْخَلُّ
Artinya: “Sebaik-baik lauk adalah cuka.”
Beliau juga menyukai zaitun dan minyak zaitun, makanan yang kini diketahui mengandung lemak baik dan membantu tubuh pulih setelah berpuasa.
Kebiasaan berbuka Rasulullah memperlihatkan bahwa inti berbuka bukanlah pesta makanan, tetapi mengembalikan energi secara perlahan dan penuh syukur.
Beliau memulai dengan yang manis alami, cairan yang cukup, kemudian makanan utama secukupnya. Teladan ini mengajarkan bahwa kesederhanaan justru membuat ibadah puasa lebih sehat dan tidak memberatkan tubuh setelah seharian menahan lapar dan dahaga.