Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo (foto: ANTARA)
JAKARTA - Sepanjang 2025 ini, kredit perbankan tumbuh sebesar 9,69 persen year on year (yoy). Realisasi ini masih berada dalam kisaran prakiraan Bank Indonesia (BI) sebesar 8-11 persen (yoy).
BI mencatat, berdasarkan kelompok penggunaan, pertumbuhan kredit investasi, kredit modal kerja, dan kredit konsumsi pada 2025 masing-masing sebesar 21,06 persen (yoy), 4,52 persen (yoy), dan 6,58 persen (yoy).
"Capaian tersebut sejalan dengan upaya BI untuk menurunkan suku bunga dan memperkuat kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM) serta realisasi program prioritas Pemerintah di tengah kondisi makro dan keuangan yang terjaga," kata Gubernur BI Perry Warjiyo, Selasa (21/1/2026).
Sementara dari sisi permintaan, Perry mengatakan pelaku usaha perlu terus didorong untuk melakukan ekspansi usaha dengan memanfaatkan fasilitas pinjaman yang belum digunakan (undisbursed loan) yang tercatat masih cukup besar pada Desember 2025, yaitu mencapai Rp 2.439,2 triliun atau 22,12 persen dari plafon kredit yang tersedia.
Dari sisi penawaran, kapasitas pembiayaan bank tetap memadai ditopang oleh rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) sebesar 28,57 persen dan DPK yang tumbuh tinggi sebesar 13,83 persen (yoy) pada Desember 2025.
Selain itu, minat penyaluran kredit perbankan terus membaik, tercermin dari persyaratan pemberian kredit (lending requirement) yang semakin longgar, kecuali pada segmen kredit konsumsi dan UMKM akibat masih tingginya risiko kredit pada kedua segmen tersebut.
Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan kredit 2026 pada kisaran 8-12 persen. Perry menegaskan, ke depan, Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) untuk terus memperbaiki struktur suku bunga dan mendorong pertumbuhan kredit atau pembiayaan perbankan tersebut.