• Oase

KH Imam Jazuli: Gus Salam Pilihan Tepat Memimpin PBNU

Syafira | Sabtu, 10/01/2026 19:02 WIB
KH Imam Jazuli: Gus Salam Pilihan Tepat Memimpin PBNU KH Abdussalam Shohib, atau yang akrab disapa Gus Salam (Foto: Arsip NU Jatim)

Oleh: KH Imam Jazuli, Lc., MA.

JAKARTA - Memasuki awal tahun 2026, dinamika internal Nahdlatul Ulama (NU) berada di titik krusial. Desakan untuk melakukan penyegaran kepemimpinan di tingkat pusat semakin menguat, dan nama KH Abdussalam Shohib, atau yang akrab disapa Gus Salam, muncul sebagai figur sentral yang dinilai mampu mengembalikan organisasi ke jalur khittahnya.

Tentu saja ada alasan kuat, mengapa Gus Salam merupakan pilihan logis dan ideologis untuk memimpin PBNU kedepan.

Pertama. Pewaris Sah Biologis dan Ideologis Muasis NU

Salah satu alasan penting yang sering dikemukakan adalah status Gus Salam sebagai cucu dari salah satu pendiri (muassis) NU, yaitu KH Bisri Syansuri. Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, keterhubungan darah dengan para pendiri sering kali dipandang sebagai simbol pewarisan nilai dan misi perjuangan. Sebagai dzurriyah, Gus Salam dianggap mewarisi secara biologis dan ideologis cita-cita serta semangat awal pendirian NU.

Hal tersebut mencakup komitmen untuk menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jama`ah an-Nahdliyah, merawat persatuan umat, dan menjalankan khidmah (pengabdian) tanpa pamrih. Para pendukungnya berpendapat bahwa kepemimpinan dari kalangan dzurriyah dapat mengembalikan NU ke "khittah"-nya, di tengah kekhawatiran adanya pergeseran arah organisasi saat ini.

Kedua. Akar Geografis dan Keulamaan yang Kuat

Gus Salam berasal dari Jombang, Jawa Timur, sebuah daerah yang dikenal sebagai pusat dan episentrum NU karena menjadi tempat kelahiran para pendiri utama organisasi ini, seperti KH Hasyim Asy`ari, KH Wahab Hasbullah, dan KH Bisri Syansuri.

Latar belakang geografis ini memberikan nilai tambah tersendiri, karena kedekatan emosional dan historis dengan akar organisasi. Selain itu, perannya sebagai pengasuh Pondok Pesantren Mamba`ul Ma`arif Denanyar, salah satu pesantren besar di Jatim, menunjukkan kedalaman akar keagamaan dan basis massa tradisional yang kuat, yang sangat vital dalam struktur sosial NU

Ketiga. Kematangan Organisasi dan Integritas Moral

Rekam jejak Gus Salam di organisasi menunjukkan kematangan yang teruji. Pernah menjabat sebagai Wakil Ketua PWNU Jawa Timur dan Wasekjen PBNU, beliau memahami seluk-beluk administrasi hingga konflik internal jam’iyah. Ia memulai kiprah di kepengurusan NU sejak tahun 2002 silam. Kemudian beranjak aktif di NU dengan menjadi Pengurus Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBM NU) Kota Kediri.

Lalu, pengurus LBM NU Jombang pada tahun 2009. Hingga di 2012 Gus Salam menerima mandat sebagai jajaran Syuriah PCNU Jombang. Tiga tahun kemudian, tepatnya pada 2015, Gus Salam terpilih sebagai Katib PBNU di periode kedua kepemimpinan KH Said Aqil Siradj. Pada tahun 2018 hingga sebelum diberhentikan, Ia juga dipercaya menduduki posisi Wakil Ketua PWNU Jatim.

Karirnya di pucuk pimpinan PBNU makin menguat setelah Gus Salam dipercaya masuk jajaran PBNU pada periode kepemimpinan KH Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum PBNU tahun 2022-2027, tepatnya sebagai Wasekjend. Namun akhirnya Gus Salam mengundurkan diri dari jabatan tersebut karena alasan tertentu.

Selain itu, seperti diketahui, bahwa Gus Salam dicopot dari jabatannya sebagai Wakil Ketua PWNU Jatim oleh PBNU sebagai sanksi atas gugatan yang dilakukan ke Pengadilan Negeri (PN) Jombang perihal struktur kepengurusan PCNU Jombang. Bermula dari pelaksanaan Konferensi Cabang PCNU Jombang pada 5 Juni 2022 lalu. Singkat cerita, setelah melakukan tabayun, PBNU menyatakan bahwa hasil konfercab sudah sah, kecuali soal hasil pemilihan Ketua Tanfidziyah PCNU Jombang.

Setelah melalui kondisi yang dinamis, ujungnya PBNU mengeluarkan kebijakan penunjukan dan pengesahan kepengurusan PCNU Jombang masa khidmat 2023-2024. Kepengurusan bentukan PBNU itu dilantik pada 20 Mei 2023. Nah, penunjukan kepengurusan itulah yang kemudian digugat secara perdata oleh Gus Salam dan kawan-kawan.

Dari sejumlah rangkaian tersebut, hal penting yang perlu dicatat adalah integritas moralnya. Gus Salam menunjukkan keberanian langka dengan memilih mundur dari jabatan Wasekjen PBNU demi menjaga prinsip. Sikap kritisnya terhadap kebijakan PBNU saat ini—termasuk keterlibatan narasumber yang berafiliasi dengan jaringan Zionisme internasional dalam acara AKN NU—menunjukkan komitmennya pada Maqashidul Qanun Asasi (tujuan dasar konstitusi NU). Selain itu, tentu saja perannya sebagai Ketua Presidium Muktamar Luar Biasa (MLB) NU adalah bukti nyata bahwa beliau lebih memilih menjaga marwah organisasi daripada kenyamanan jabatan.

Empat. Menjawab Krisis Kepemimpinan 2026

Hingga 9 Desember 2025 (Pleno di Hotel Sultan Pemecatan Gus Yahya), PBNU di bawah kepemimpinan Gus Yahya menghadapi tantangan besar berupa desakan mundur dari jajaran Syuriyah akibat masalah tata kelola organisasi dan pelanggaran nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama`ah an-Nahdliyah. Gus Salam muncul bukan sebagai pencari kekuasaan—mengingat beliau sempat menyatakan tidak berambisi mencalonkan diri demi menjaga kemurnian gerakan MLB—tetapi justru karena dorongan kuat dari banyak PCNU dan PWNU yang melihatnya sebagai figur pemersatu.

Oleh karena itu, menjadikan Gus Salam sebagai Ketua Umum PBNU berikutnya adalah langkah strategis untuk merekonsiliasi faksi-faksi yang bertikai dan mengembalikan kepercayaan warga Nahdliyin. Dengan perpaduan trah pendiri, pengabdian di pesantren, dan keberanian moral, Gus Salam adalah jawaban atas kerinduan warga NU akan kepemimpinan yang jujur, berani, dan tetap berpijak pada tradisi pesantren. Wallahu`alam bisahwab.