Ilustrasi - Hacker (Foto: Getty Images/iStockphoto)
JAKARTA - Di era serbadigital, hampir semua aktivitas meninggalkan jejak: belanja, mengisi formulir, mengunduh aplikasi, hingga bermain media sosial.
Jejak inilah yang sering disasar pelaku kejahatan siber — mulai dari penyalahgunaan identitas, penipuan, hingga pembobolan akun. Sayangnya, banyak orang baru sadar pentingnya keamanan digital setelah mengalami kerugian.
Melindungi data pribadi sebenarnya tidak rumit. Dengan kebiasaan yang tepat dan sedikit lebih waspada, risiko kebocoran data bisa ditekan jauh lebih kecil.
Banyak orang memakai satu kata sandi untuk semua akun. Praktis, tapi berbahaya. Gunakan kombinasi huruf besar–kecil, angka, dan simbol. Hindari tanggal lahir, nama, atau kata yang mudah ditebak. Jika perlu, gunakan password manager agar tidak lupa.
Meski kata sandi bocor, akun masih terlindungi jika ada lapisan keamanan tambahan. Aktifkan OTP via SMS, aplikasi autentikator, atau kunci keamanan. Ini membuat akun jauh lebih sulit ditembus.
Email atau pesan berhadiah, kiriman “tagihan”, atau tautan mencurigakan bisa jadi jebakan. Periksa alamat pengirim, ejaan, dan tujuan tautan. Jika ragu, jangan klik — masuklah langsung ke situs resmi dari browser.
Banyak aplikasi meminta akses kamera, lokasi, kontak, bahkan mikrofon — padahal tidak selalu diperlukan.
Cek kembali izin aplikasi secara berkala. Nonaktifkan izin yang tidak relevan agar data tidak disedot tanpa sadar.
KTP, kartu keluarga, tiket, boarding pass, hingga kartu vaksin sering diunggah ke media sosial. Padahal, informasi itu bisa dipakai untuk kejahatan. Upload seperlunya — sensor bagian sensitif, atau lebih baik tidak membagikannya sama sekali.
WiFi publik rawan penyadapan. Hindari transaksi finansial, login ke bank, atau mengisi data penting saat tersambung WiFi umum. Jika terpaksa, gunakan VPN tepercaya.
Pembaruan (update) bukan hanya menambah fitur, tetapi menutup celah keamanan. Tunda update berarti membiarkan pintu terbuka bagi peretas. Aktifkan pembaruan otomatis bila memungkinkan.