25 Persen UMKM Indonesia Abai Pentingnya Pendaftaran Merek Usaha

Wahyoe Boediwardhana | Minggu, 07/05/2023 14:24 WIB

Baru 75 prsen pelaku UMKM di Indonesia yang memahami pentingnya mendaftarkan merek usaha secara baik dan benar, untuk menghindari penggunaan merek sama yang dapat mempengaruhi potensi pertumbuhan bisnis baru (scale up) Seorang scale up tengah mencoba aplikasi untuk mengecek ketersediaan merek usahanya di Surabaya. Baru 75 persen dari sekitar 82 ribu pelaku UMKM di Indonesia yang sadar mengurus dan mendaftarkan merek usaha mereka secara baik dan benar. Sisanya, mereka masih abai dan berpotensi merek dagang mreka ditiru oleh pelaku bisnis yang lain. (Foto.Istimewa)

SURABAYA – Pelaku Usaha Kecil Mikro Menegah (UMKM) di Indonesia ternyata masih belum banyak yang memahami pentingnya mendaftarkan merek usaha mereka secara baik dan benar. Ini terlihat di tahun 2022 lalu, dari 82 ribu permohonan pendaftaran merek yang diajukan hanya 62 ribu pendaftaran saja yang diterima, atau setara sekitar 75 persen saja.

Selama ini para pelaku UMKM dikatakan hanya fokus dalam melakukan produksi dan pemasaran saja. Sementara untuk urusan merek masih dinomorduakan. Padahal pemerintah pusat berharap pelaku UMKM bisa turut menopang perekonomian nasional masyarakat.

“Sisanya yang 25 persen itu ditolak. Tak hanya itu, kesadaran pelaku usaha untuk melakukan pendaftaran merek juga belum maksimal. Berdasarkan data yang dihimpun pada akhir tahun 2022, di Jawa Timur, dari puluhan ribu UMKM baru ada 10.953 yang mengajukan pendaftaran merek,” kata CEO Mebiso.com, Hesti Rosa di Surabaya, Sabtu (5/6/2023).

Keseriusan membangun brand menurut Hesti Rosa, bisa dinilai dari niat pemilik UMKM dalam melindungi mereknya. Pemilik UMKM harus paham terlebih dahulu risiko seperti apa yang mengincar reputasi bisnisnya saat scale up, bagaimana dampak dari risiko tersebut dapat menghambat proses pengembangan usaha. Saat ini kebanyakan para pelaku UMKM tak terpikirkan untuk mendaftarkan merek usahanya, padahal ini merupakan hal yang krusial.

Baca juga :
Bank Dunia Sebut Kemiskinan di Myanmar Semakin Parah, Pertumbuhan Ekonomi Stagnan

Saat hadir di acara Pesta Wirausaha 2023 di Surabaya, ia mengungkapkan tentang pentingnya sosialisasi pemahaman merek pada para pelaku UMKM. Mebiso selanjutnya berbagi pengalaman berkaitan dengan risiko yang kerap mengintai reputasi bisnis ketika mulai bertumbuh (scale up).

Baca juga :
Serangan Rusia Sebabkan Penduduk Kyiv Kehilangan Aliran Listrik dan Air

“Padahal, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi sudah menggelontorkan dana khusus bagi pelaku UMKM di Surabaya yang ingin mendaftarkan mereknya,” ujar Hesti.

Sebelum melakukan pendaftaran, pelaku usaha sebaiknya melakukan pengecekan terlebih dahulu. Mereka harus betul-betul memastikan, apakah merek usahanya itu sudah terdaftar atau belum. Hal ini selain untuk memudahkan saat melakukan pendaftaran juga meminimalisir pengajuan pendaftaran mereknya ditolak.

Baca juga :
Laba-laba Joro asal Asia yang Menakutkan Menyerbu Taman di Amerika

“Nah, pengecekan merek ini membutuhkan waktu yang cukup lama. Termasuk, perlu ketelitian dalam menelusuri merek serupa dan kemampuan mendalam untuk menganalisa potensi keberhasilannya. Hal ini tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi para pelaku usaha yang membuat mereka harap-harap cemas ketika mendaftarkan mereknya. Mebiso hadir untuk memudahkan itu semua,” jelas Hesti.

Startup asal Surabaya ini memanfaatkan teknologi artificial intelligence (AI) untuk melakukan pengecekan merek. Sehingga, mampu mengukur prosentase keberhasilan pendaftaran merek, menghindari persamaan nama merek, mengetahui rincian merek pembanding hingga menganalisa strategi pendaftaran merek cukup dengan satu kali klik dan waktu tak lebih dari lima menit.

Proses pengecekan juga ikatakan berlangsung secara transparan, proteksi terotomatisasi dan serta mendapat dukungan dari praktisi. Sehingga, membantu melindungi originalitas merek dan kekuatan brand.

“Ini mampu melindungi masyarakat dari tipu daya merek KW (tipuan). Serta, dari sisi pemerintah, mampu mendorong upaya pemerataan perlindungan kekayaan intelektual (KI),” lanjut dia.

Mobiso sebelum diluncurkan, setidaknya sudah dimanfaatkan lebih dari 54.430 pelaku usaha untuk mengecek merek. Sehingga, mereka bisa melakukan pendaftaran merek lebih cepat. Bahkan, sejak tahun 2022, dalam platform ini terdapat lebih dari 1,4 juta data merek. Kemudian, sudah ada lebih dari 6.000 merek terdeteksi setiap bulan, serta sudah ada lebih dari 58.440 merek yang sudah terdaftar.

Menjawab apa yang ditawarkan platform Mobiso ini, Ketua Umum Asosiasi Laundry Indonesia, Apik Primadya mengaku sangat terbantu dalam proses pendaftaran merek usahanya.

“Karena proses pendaftaran merek ini tidak cepat, maka saya juga tidak mungkin terus menerus memantau setiap hari karena ada kesibukan. Sekarang saya tenang, setiap ada perubahan status dalam pendaftaran merek, bisa di cek di ponsel, karena ada notifikasinya,” kata Apik Primadya.

Hal sama juga diungkapkan CEO Jagoan Hosting Indonesia Afrizal N. Baharsyah. Ia juga mengaku terbantu dengan aplikasi seperti Mebiso.com ini. Sebab, nama brand miliknya tak mudah ditiru oleh orang lain.

“Unsur nama brand perusahaan saya ini cukup umum digunakan. Sehingga, saya khawatir kalau ada brand baru yang muncul dan namanya mirip. Nah, di Mebiso.com ini ada fitur proteksi. Bisa buat saya lebih sigap dan responsif kalau ada nama brand yang mirip dengan nama perusahaan milik saya,” ujar Afrizal.

KEYWORD :
UMKM merek artificial intelligence mobiso