Andai BTN Melirik Pelaku Usaha Toko Online

Pamudji Slamet | Senin, 19/02/2024 18:27 WIB

Andai BTN Melirik Pelaku Usaha Toko Online Ilustrasi

JAKARTA - Predikat sebagai raja KPR telah melekat kuat pada Bank BTN. Di luar predikat itu, sejatinya, bank plat merah ini bisa melekatkan portofolio baru, misalnya sebagai penyokong modal usaha toko online.

Sebelum membahas tentang potensi kredit toko online sebagai portofolio baru, mari pertegas predikat BTN sebagai raja Kredit Pembiayaan Rumah atau KPR. Predikat ini tecermin dari pernyataan Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, Nixon LP tentang kinerja bisnis perusahaan. Disebutkan, bahwa KPR masih menjadi nafas utama kinerja tersebut.

"KPR jadi motor terbesar menggerakan kinerja mesin bisnis BTN," kata Nixon dalam paparan kinerja sepanjang 2023, Senin (12/2/2024).

Perusahaan berhasil menyalurkan kredit Rp 333,7 triliun hingga Desember 2023. Angka ini naik 11,9% jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca juga :
Kemendag: Pembelian Produk Lokal di e-Commerce Naik Signifikan

Untuk penyaluran KPR Subsidi pada 2023 mengalami kenaikan 10,9% menjadi Rp 161,74 triliun dari perolehan tahun lalu yang sebesar Rp 145,86 triliun. Sedangkan untuk KPR Non Subsidi juga mengalami pertumbuhan sebesar 9,5% dari Rp 87,82 triliun pada 2022 menjadi Rp 96,17 triliun pada 2023.

Baca juga :
BTN Siap Uang Tunai Rp39,44 Triliun

Angka-angka tersebut menegaskan satu hal, betapa kuatnya portofolio BTN di sektor KPR. Hanya saja, ada angka-angka lain, yang bisa dipertimbangkan sebagai pintu masuk untuk membangun portofolio baru. Angka-angka itu datang dari sektor perdagangan online.

Sebelumnya, perdagangan online sempat diprediksi meredup setelah pemerintah mencabut status pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) pada 30 Desember 2022. Prediksi ini cukup beralasan karena transaksi online meningkat tajam pada masa pandemi COVID-19, dimana diberlakukan PPKM. Dengan dicabutnya PPKM, maka pelaku usaha dan konsumen diduga akan meninggalkan jual beli online dan kembali ke perdagangan ofline.

Baca juga :
Kabar Gembira, BTN Bakal Tebar Dividen Rp700,19 Miliar

Dugaan itu meleset. Pencabutan PPKM yang tertuang dalam Instruksi Mendagri nomor 50 dan 51 Tahun 2022 serta diumumkan langsung oleh Presiden Joko Widodo tersebut tidak berpengaruh terhadap perdagangan onlline. Angka statistik terkait hal itu masih tinggi. Hal ini tecermin dari jumlah kunjungan pada aplikasi loka pasar atau e-commerce di Indonesia.

Data SimilarWeb, yang dikutip dari laman goodstats, menyebutkan kunjungan dan aktivitas jual beli online di Tanah Air pada 2023 terbilang tinggi. Kunjungan tersebut banyak mengumpul pada dua e-commerce papan atas. Yakni, Shopee dan Tokopedia.

Pada Q1 2023, Shopee dikunjungi oleh 158 juta pengunjung. Angka ini naik menjadi 167 juta pengunjung ada Q2 2023. Sementara itu, Tokopedia dikunjungi 117 juta orang pada Q1 dan 107,2 pada Q2 2023.

Kunjungan dan transaksi jual beli online pada dua e-commerce raksasa tersebut, sesungguhnya, menunjukkan potensi ekonomi yang teramat sangat besar. Bahkan proyeksi pengguna e-commerce di Tanah Air digadang-gadang akan mencapai 244 juta pada 2027 mendatang.

Dari kacamata perbankan, bukan kah siapa pun yang terlibat dalam jual beli online itu adalah nasabah potensial? Apakah berlebihan jika perbankan menjadikannya sebagai target pasar? Jawabannya, iya, mereka adalah nasabah potensial, dan tidak berlebihan jika perbankan membidiknya sebagai target pasar. Maka, Bank BTN juga tak berlebihan jika menempatkannya sebagai target pasar.

"Sama dengan pelaku usaha lain, pengelola toko online juga butuh pinjaman modal. Bisa untuk pree order jangka panjang atau meningkatkan kapasitas produksi," ujar Aisyah, pemilk dan pengelola toko online.

Pengelola toko online di lini produk hobi dan koleksi itu menyatakan,  pengelola toko online membutuhkan tambahan modal untuk mengembangkan usaha.

"Untuk memesan barang baru atau yang masih dalam proses produksi,misalnya, harus dilakukan secara pree order. Nah, untuk bisa pree order, saya harus punya modal tambahan karena waktu pemesanannya agak panjang, bisa lima sampai enam bulan. Sedangkan modal yang saya punya hanya cukup untuk pesan barang reguler, atau yang berputar setiap bulan," papar Aisyah.

Aisyah adalah satu dari jutaan pelaku usaha toko online, yang merupakan pasar potensial penerima kredit perbankan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan, jumlah pelaku usaha yang melakukan penjualan melalui lokapasar daring atau e-commerce mencapai 2,99 juta pelaku. Jumlah itu setara dengan 37,79% dari total pelaku usaha di dalam negeri.

Data yang sama juga menyebut penyebaran domisili pelaku usaha. Bukan hanya di Jawa, mereka juga menggerakkan usahanya dari Luar Jawa.

Dari angka-angka di atas, sesungguhnya, cukup beralasan bagi Bank BTN melirik pelaku usaha toko online.

"Plafon kreditnya tidak perlu besar-besar, mungkin di bawah sepuluh juta dulu, dengan tenor satu sampai tiga tahun," ujar Aisyah penuh harap.

Akankah harapan Aisyah terwujud? Semoga.

 

KEYWORD :
BTN toko online e commerce