• Bisnis

Tips Jitu Siapkan Dana Haji, Berikut Investasi yang Tepat

Nitro Luindimar | Sabtu, 18/06/2022 16:32 WIB
Tips Jitu Siapkan Dana Haji, Berikut Investasi yang Tepat Tips Jitu Siapkan Dana Haji, Berikut Investasi yang Tepat. Foto: AFP/ArabNews

JAKARTA - Beberapa waktu terakhir ramai diberitakan tentang masa tunggu antrean ibadah haji di Indonesia yang sangat panjang.

Rata-rata masa tunggu antrean keberangkatan haji di Indonesia saat ini adalah 48,5 tahun, dengan masa tunggu tersingkat 9 tahun (di Kabupaten Maybrat, Papua Barat) dan terpanjang 97 tahun (di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan).

Selain melalui program haji reguler, ada juga alternatif haji khusus (ONH Plus), maupun haji furoda yang tanpa antre.

Bagi yang membutuhkan dan merencanakan untuk naik haji, pilih yang sesuai dengan kapan kita ingin berangkat dan kemampuan ekonomi, bulatkan niat dan lakukan perencanaan keuangan yang matang.

Dikutip dari Bareksa.com, Dimas Ardhinugraha, Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) memberikan tips bagaimana menyiapkan dana haji berikut ini.

Ibadah haji memerlukan persiapan yang matang. Di awal, persiapan keuangan sangat penting, karena untuk mendapatkan nomor antrean keberangkatan harus ada setoran dana awal yang dibayarkan.

“Biaya haji regular yang ditetapkan oleh pemerintah untuk tahun 2022 berkisar antara total Rp35 juta hingga Rp42 juta yang dibagi dalam dua termin pembayaran,” ujar Dimas dalam keterangannya (17/6/2022).

Setoran pertama senilai Rp25 juta (untuk mendapatkan nomor antrean) dan setoran kedua atau pelunasan dari sisanya saat sudah mendapatkan kepastian keberangkatan.

Pada haji khusus dan haji furoda, biaya yang dibutuhkan jauh di atas angka tersebut.

Selain itu, calon jemaah haji juga harus mempertimbangkan faktor inflasi.

Jelang keberangkatan, dana yang harus dilunasi mungkin sudah di atas Rp10 juta. Inflasi harga bahan bakar pesawat, hotel, perbedaan kurs mata uang dolar Amerikat Serikat maupun riyal Arab Saudi, dan lainnya akan ikut meningkatkan biaya haji.

“Juga perlu dialokasikan dana untuk pembuatan paspor, vaksin meningitis, serta jika dibutuhkan untuk suvenir atau oleh-oleh maupun uang jajan selama di sana,” ungkap Dimas.

Atur Ulang Prioritas Keuangan

Jika tekad dan niat sudah bulat, kata Dimas, maka umumnya usaha untuk menggapai tujuan keuangan akan terasa lebih ringan.

Agar dana haji dapat terkumpul sesuai waktu yang diharapkan dan jumlah yang dibutuhkan, maka kita harus mengisi pos dana haji secara disiplin dan rutin.

“Yang harus kita lakukan adalah mengatur ulang prioritas keuangan. Jika pendapatan tidak bisa ditambah, maka pengeluaran harus dikurangi,” kata Dimas.

Pilih pos-pos pengeluaran yang masih bisa dihemat, misalnya pos hiburan. Kurangi biaya atau frekuensi makan di luar rumah, serta lebih selektif dan irit dalam melakukan pembelanjaan atau pengeluaran.

Biarkan Uang Bekerja untuk Kita

Karena masa tunggu yang cukup panjang pada haji regular dan haji khusus, menurut Dimas, maka jangan biarkan uang kita tidur di rekening tabungan dan tergerus inflasi.

Reksadana dapat dijadikan salah satu alternatif untuk menyimpan dan mengembangkan pos dana haji.

Lakukan diversifikasi pada beragam jenis reksadana, mulai dari reksadana pasar uang yang memiliki risiko relatif rendah, reksadana pendapatan tetap dengan risiko sedang, hingga reksadana saham yang memiliki risiko tinggi.

“Dalam investasi berlaku prinsip high risk high return dan low risk low return. Potensi keuntungan yang tinggi memiliki tingkat risiko yang juga tinggi,” Dimas menjelaskan.

Karena itu, jika waktu persiapan yang dimiliki cukup singkat, sekitar 1-2 tahun, simpan di instrumen dengan risiko yang relatif rendah.

Jika masih sangat panjang, di atas 10 tahun, maka perbanyak porsi investasi di reksadana saham.

Dimas menyatakan salah satu produk reksadana saham syariah dapat dimanfaatkan untuk persiapan naik haji jangka panjang.

Sebagai contoh, Manulife Syariah Sektoral Amanah (MSSA) merupakan reksadana yang dikelola sesuai prinsip syariah dan berinvestasi di berbagai saham perusahaan-perusahaan di Indonesia.

Reksadana MSSA mencatatkan imbal hasil 12,88 persen dalam setahun terakhir (per akhir Mei 2022).

Masyarakat juga dapat memanfaatkan reksadana dengan risiko lebih rendah, seperti reksadanaManulife Syariah Sukuk Indonesia (MSSI). MSSI berinvestasi di sukuk atau Surat Berharga Syariah tenor pendek sehingga menghasilkan karakter reksadana yang lebih konservatif dibandingkan saham.

MSSI mencatatkan imbalan 4,48 persen setahun (per akhir Mei 2022).

“Ibadah haji memerlukan kondisi fisik yang prima. Persiapan keuangan yang baik memungkinkan kita berangkat selagi fisik masih sehat dan prima. Saat kita mendapatkan kesempatan berangkat yang lebih cepat dari waktu perkiraan, saat itu pula kita sudah memiliki dana untuk pelunasan biayanya,” Dimas menambahkan. (*)

FOLLOW US