• Gaya Hidup

Kastangel, Kue Kering Bergengsi, Disajikan di Rumah Pegawai Belanda yang Menikahi Wanita Pribumi

Nitro Luindimar | Jum'at, 22/04/2022 06:30 WIB
Kastangel, Kue Kering Bergengsi, Disajikan di Rumah Pegawai Belanda yang Menikahi Wanita Pribumi Kue Kering Kastengel. (FOTO: SHUTTERSTOCK)

JAKARTA - Jelang Lebaran, aroma kue kering menyeruak hidung. Bau harum adonan terigu bercampur keju khas Kastengel mulai menyeruak di tengah-tengah kita.

Kastengel adalah kue kering andalan di hari raya Idul Fitri. Bersama kue kering lebaran lainnya seperti Nastar dan Putri Salju, Kastengel selalu tersaji di toples-toples kaca di rumah-rumah yang sudah siap menyambut hari raya.

Di antara kue kering lainnya, Kastengel termasuk kue kering yang dijual dalam harga cukup mahal.

Lantaran dalam adonannya, diberi banyak parutan keju untuk memberikan aroma dan citarasa khas kastengel.

Kue kering Kastengel bukan kue kering asli pribumi. Dari berbagai sumber didapatkan bahwa kastengel adalah kue kering asal negeri kincir angin, Belanda.

Di negara asalnya, kue kering ini bernama kaasstengels, dari kata kaas yang berarti keju dan stengels yang berarti batangan.

Dalam laman Indonesian Chef Association, disebutkan bahwa Kastengel disebut pula sebagai kue keju batangan atau kue cheese fingers.

Dinamakan cheese fingers lantaran bentuknya yang kecil memanjang seperti jari-jemari dengan citarasa keju.

Di Belanda, Kastengel tentu saja bukan kudapan khas hari raya. Kastengel justru pernah memiliki masa lalu unik, yaitu digunakan sebagai pengganti mata uang.

Kejadian itu terjadi di kota Krabbedijke, dimana jual beli barang dilakukan dengan cara barter menggunakan Kastengel.

Hal ini dilakukan lantaran Kastengel menggunakan komposisi keju mahal, sehingga dianggap sebagai makanan cukup bergengsi.

"Kastengel sendiri masuk ke Indonesia pada masa kolonial Belanda, di masa itu terjadi semacam akulturasi budaya juga kuliner," begitu papar Chef Fidin, anggota Indonesian Chef Association.

Kue kering bergengsi ini biasa disajikan di rumah-rumah pejabat atau pegawai Belanda yang menikahi wanita-wanita pribumi.

Lewat proses itulah, akhirnya terjadi akulturasi kuliner khas Belanda dengan kuliner nusantara, yang awet terjaga hingga kini.
Kastengel adalah kue kering yang memiliki adonan utama berupa terigu, telur, margarin dan parutan keju.

Enak tidaknya Kastengel, mantap tidaknya citarasanya, sangat tergantung dari pemilihan keju yang ada dan seberapa banyak takaran keju yang digunakan.

Menurut Fidin, chef HAKA Hotel Semarang, keju yang digunakan untuk Kastengel adalah keju edam. Terkadang bisa pula ditambah parmesan untuk menambah citarasa.

Di Belanda, Kastengel memiliki panjang sekitar 30 cm.

Penyajian Kastengel di sana mirip penyajian roti baguette asal Perancis. Yaitu disantap dengan sup panas, atau dipotong-potong untuk jadi pelengkap seporsi salad.

Ketika kastengel mendarat di nusantara, wanita Belanda maupun wanita pribumi yang akan mengolahnya kesulitan dalam mencari oven yang berukuran besar seperti oven-oven di dapur Belanda.

Karena hal inilah, adonan kastengel akhirnya dibentuk dalam potongan kecil-kecil agar bisa muat ke dalam loyang, yaitu sepanjang 3-4 cm saja. (*)

FOLLOW US