• Bisnis

Angkasa Pura I Sesuaikan Belanja jadi Rp6,3 Triliun

Budi Wiryawan | Rabu, 13/05/2020 11:05 WIB
Angkasa Pura I Sesuaikan Belanja jadi Rp6,3 Triliun Bandara Juanda, Surabaya

Katakini.com - Imbas pandemi Covid-19 ini, Operator Bandara PT Angkasa Pura I (Persero) lakukan penyesuaian belanja modal (capital expenditure/capex) senilai Rp3,9 triliun menjadi Rp6,3 triliun.

AP I telah menetapkan anggaran sebesar Rp10,2 triliun untuk belanja modal sepanjang tahun ini. Adapun, seluruh sumber modal dari kas internal perusahaan.

"Ada beberapa investasi baru yang kami batalkan. Sisanya tetap kami realisasikan sampai akhir tahun sehingga tidak mengganggu cashflow [arus kas] perusahaan," kata Direktur Utama AP I Faik Fahmi, Rabu (13/5/2020).

Upaya ini dilakukan untuk menjaga stabilitas perusahaan di tengah pandemi virus Corona atau pandemi Covid-19. Adapun, belanja modal perusahaan akan dialokasikan untuk pelbagai proyek strategis pengembangan bandara yang direncanakan kelar tahun ini hingga pertengahan tahun mendatang.

Pihaknya menjelaskan proyek tersebut antara lain pengembangan Bandara Internasional Juanda, Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Bandara Sam Ratulangi Manado, Bandara Internasional Pattimura Ambon, dan Bandara Internasional Lombok. Sebelumnya, perusahaan pelat merah ini sudah menggarap dua proyek strategis, seperti Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) dan Bandara El Tari di Kupang.

Di samping itu, lanjutnya, perseroan juga masih mengagendakan beberapa proyek yang telah berjalan. Misalnya pengembangan Bandara Sentani di Jayapura yang pengelolaannya baru saja diambil alih oleh AP I. Di bandara ini, perseroan membenamkan investasi senilai Rp500 miliar untuk perbaikan fasilitas dan penyesuaian standar sarana-prasarana.

AP I juga masih akan melanjutkan proyek pengelolaan bandara baru di Kediri. Proyek ini dikerjasamakan dengan PT Gudang Garam Tbk.

Di samping menurunkan belanja modal, perusahaan juga melakukan pelbagai cara untuk menekan dampak pandemi. Misalnya mengurangi operational expenditure (opex) sebesar 32 persen.