Ilustrasi - 3 Spesies Orangutan Paling Langka dan Terancam Punah di Dunia (Foto: REUTERS)
JAKARTA - Secara taksonomi ilmiah, bumi hanya memiliki tiga spesies utama orangutan.
Ketiganya merupakan satwa endemik Indonesia dan Malaysia yang seluruhnya telah masuk dalam Daftar Merah IUCN (International Union for Conservation of Nature) dengan status Kritis (Critically Endangered).
Meskipun kerap diasumsikan memiliki banyak variasi jenis, keanekaragaman orangutan terbagi ke dalam tiga spesies serta beberapa subspesies berdasarkan sebaran geografis dan karakteristik genetiknya.
1. Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis)
Diakui secara resmi sebagai spesies baru pada tahun 2017, Orangutan Tapanuli memegang predikat sebagai spesies kera besar paling langka di dunia.
Satwa ini hanya dapat ditemukan di Ekosistem Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara.
Diperkirakan hanya tersisa sekitar 700 hingga 800 individu di alam bebas.
Fragmentasi habitat akibat pembukaan lahan, aktivitas pertambangan, proyek infrastruktur energi, serta tingginya risiko perkawinan sedarah (inbreeding) akibat terisolasinya populasi.
Orangutan Sumatra memiliki ciri khas warna bulu jingga kemerahan yang lebih terang serta tubuh yang relatif lebih ramping dibandingkan kerabatnya di Kalimantan.
Satwa ini menghabiskan hampir seluruh waktunya di atas kanopi hutan (arboreal).
Diperkirakan tersisa sekitar 13.000 hingga 14.000 individu yang tersebar terutama di Ekosistem Leuser.
Alih fungsi hutan hujan menjadi perkebunan kelapa sawit, alur jalan logistik yang membelah habitat alami, dan perburuan liar untuk perdagangan satwa ilegal.
Secara keseluruhan, Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) terbagi menjadi tiga subspesies.
Di antara ketiganya, populasi Orangutan Barat (Pongo pygmaeus wurmbii) yang menghuni kawasan Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah mengalami penurunan drastis akibat tutupan hutan yang kian terfragmentasi.
Populasi tergolong sangat terancam akibat hilangnya tutupan hutan gambut.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) skala besar, pengerukan lahan gambut, serta konflik dengan pemukiman warga.
Subspesies ini mendiami kawasan Sabah (Malaysia) hingga ke Kalimantan Timur. Orangutan Utara Kalimantan memiliki daya tahan adaptasi yang relatif kuat terhadap perubahan kualitas hutan, namun tetap terancam oleh deforestasi masif.
Mengalami penurunan konsisten di kawasan hutan produksi dan konsesi.
Pembalakan liar, perambahan lahan, dan krisis pakan alami akibat hilangnya pohon-pohon buah kanopi.
Mendiami wilayah barat daya Kalimantan dan Sarawak, subspesies ini memiliki jumlah populasi yang paling sedikit di antara tiga jenis Orangutan Kalimantan.
Diperkirakan hanya tersisa beberapa ribu individu di kantong-kantong hutan yang terisolasi.
Pembangunan infrastruktur darat yang memutus jalur migrasi alami serta konversi lahan menjadi kawasan pertanian dan permukiman.