Taman Parkir Blok M Tahun 1970 (Sumber_ id.pinterest.com_bintoro hoepoedio)
JAKARTA - Blok M di Jakarta Selatan berdiri sebagai salah satu episentrum gaya hidup, budaya populer, dan konektivitas transportasi di ibu kota.
Wilayah yang secara administratif berada di Kelurahan Melawai, Kramat Pela, dan Selong ini telah melewati berbagai fase transformasi fungsional yang masif.
Dari sebuah kawasan penyangga permukiman pasca-kemerdekaan hingga bertransformasi menjadi pusat transit terintegrasi modern.
Melansir dari berbagai sumber, berikut ini rekam jejak perkembangan Blok M dari masa ke masa:
Era 1940–1950
Sejarah Blok M tidak dapat dipisahkan dari perancangan Kebayoran Baru sebagai kota satelit (satellite town) pertama di Indonesia.
Proyek ini diinisiasi pada tahun 1948 oleh perusahaan Belanda Centrale Stichting Wederopbouw (CSW) dan dirancang oleh Moh. Soesilo, seorang perancang kota lokal murid dari Thomas Karsten.
Kebayoran Baru dirancang menggunakan konsep Garden City (Kota Taman) yang membagi wilayah berdasarkan klaster blok alfabetis dari Blok A sampai Blok S.
Blok M diposisikan sebagai pusat perdagangan, logistik, dan fasilitas publik yang menyokong kawasan hunian elite di sekitarnya.
Era 1970–1980
Pada dekade 1970-an, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai mempertegas fungsi Blok M sebagai hub pergerakan penduduk dengan membangun Terminal Bus Blok M.
Keberadaan terminal ini menjadikannya salah satu titik transit tersibuk di Jakarta yang mempertemukan berbagai rute bus kota, mulai dari Mayasari Bakti, PPD, hingga angkutan kopaja.
Konektivitas ini memicu ledakan aktivitas ekonomi dan budaya populer (pop culture) bagi kalangan remaja pada era 1980-an:
Kawasan jalanan di sekitar Melawai menjadi arena unjuk gigi otomotif, mode mode pakaian, dan tempat berkumpul ikonik anak muda Jakarta.
Kehadiran infrastruktur komersial seperti Pasar Raya Blok M, Aldiron Plaza (kemudian menjadi Blok M Plaza pada tahun 1990), dan Melawai Plaza memosisikan Blok M sebagai kiblat belanja utama ibu kota.
Era 1990–2000
Memasuki pertengahan 1990-an, lanskap demografis Blok M mulai bergeser dengan tumbuhnya kawasan khusus ekspatriat Jepang di wilayah Melawai yang dikenal sebagai "Little Tokyo".
Berbagai restoran autentik Jepang, bar, supermarket impor, hingga festival budaya tahunan seperti Ennichisai tumbuh subur di kawasan ini, memberikan identitas multikultural baru bagi Blok M.
Meskipun demikian, pada medio 2000-an, Blok M sempat mengalami fase stagnasi dan penurunan popularitas.
Munculnya mal-mal baru berkonsep one-stop shopping di berbagai sudut Jakarta lainnya membuat pamor pusat perbelanjaan konvensional di Blok M sempat meredup.
Era 2010–Sekarang
Wajah Blok M kembali mengalami perubahan struktural melalui peremajaan infrastruktur transportasi publik berbasis rel.
Pembukaan jalur MRT Jakarta Fase 1 pada tahun 2019 menempatkan Stasiun MRT Blok M BCA dan Stasiun ASEAN (CSW) sebagai pilar utama mobilitas warga.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menerapkan konsep Transit Oriented Development (TOD) yang mengintegrasikan secara fisik bangunan stasiun MRT, Terminal Bus Blok M bawah tanah, dan halte TransJakarta melalui jembatan layang pedestrian Skybridge CSW.