• Oase

Mengapa Mayoritas Penyakit Bersumber Dari Perut

Anggoro Aristo Priambodo | Minggu, 28/06/2026 03:03 WIB
Mengapa Mayoritas Penyakit Bersumber Dari Perut Ilustrasi muslimah makan

Katakini.com - Hasil evaluasi medis modern dan thibbun nabawi menunjukkan bahwa mayoritas penyakit bermula dari isi perut manusia.

Kebiasaan mengonsumsi makanan secara berlebihan tanpa kontrol menjadi pemicu utama rusaknya sistem kekebalan tubuh.

Islam sejak awal telah memberikan rambu-rambu yang sangat jelas mengenai pentingnya menjaga pola makan yang sehat.

Allah SWT melarang keras hamba-Nya bersikap melampaui batas dalam urusan konsumsi melalui firman-Nya dalam Al-Qur`an.

"...Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." (QS. Al-A`raf: 31)

Ayat mulia tersebut mengisyaratkan bahwa pangkal dari segala kesehatan fisik adalah kemampuan dalam mengendalikan nafsu makan.

Ketika lambung dipaksa bekerja melebihi kapasitasnya, zat-zat sisa yang tidak tercerna akan berubah menjadi racun berbahaya.

Rasulullah SAW juga telah memperingatkan umatnya tentang bahaya memenuhkan wadah lambung secara serakah.

Dalam hadits riwayat Imam Tirmidzi, Nabi SAW bersabda, "Tidak ada wadah yang dipenuhi oleh anak Adam yang lebih buruk daripada perutnya."

Beliau kemudian memberikan solusi ideal dengan membagi porsi lambung menjadi sepertiga makanan, sepertiga minuman, dan sepertiga udara.

Gaya hidup yang dicontohkan oleh Rasulullah ini terbukti mampu menjaga kebugaran para sahabat dari berbagai penyakit kronis.

Banyaknya penyakit modern seperti diabetes, kolesterol, dan stroke tidak lain adalah akibat dari kelalaian menjaga pola makan ini.

Evaluasi ini menjadi alarm bagi umat Muslim untuk kembali menerapkan pola hidup sehat yang bersumber dari wahyu Ilahi.

Makanan yang halal lagi baik (thayyib) harus menjadi standar utama yang masuk ke dalam tubuh kita sehari-hari.

Semoga Allah SWT senantiasa menganugerahkan kita kekuatan iman dan fisik untuk selalu menjaga kesehatan dalam ketaatan.