• Oase

Mengapa Bulan Muharram Istimewa? Berikut Keutamaan dan Ibadah yang Dianjurkan

Agus Mughni Muttaqin | Kamis, 18/06/2026 07:59 WIB
Mengapa Bulan Muharram Istimewa? Berikut Keutamaan dan Ibadah yang Dianjurkan Tahun Baru Islam 1 Muharram. (FOTO: HO/IST)

JAKARTA - Bulan Muharram menandai dimulainya Tahun Baru Hijriah atau Tahun Baru Islam sekaligus menjadi salah satu bulan paling istimewa dalam Islam.

Selain menjadi awal tahun bagi umat Muslim, Muharram juga termasuk dalam empat bulan haram yang dimuliakan Allah SWT sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur`an.

Dalam Surah At-Taubah ayat 36, Allah SWT menetapkan empat bulan haram, yakni Dzulqa`dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Pada bulan-bulan tersebut, umat Islam diperintahkan untuk menjauhi berbagai bentuk kezaliman dan meningkatkan amal saleh.

Muharram memiliki kedudukan yang sangat istimewa hingga disebut sebagai "Syahrullah" atau bulan Allah. Sebutan ini menunjukkan kemuliaan Muharram yang tidak dimiliki bulan-bulan lainnya.

Dikutip dari Nahdlatul Ulama (NU) dan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), bulan Muharram juga menyimpan banyak peristiwa penting dalam sejarah Islam. Di antaranya hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah, keselamatan Nabi Musa AS dari kejaran Firaun, diterimanya taubat Nabi Adam AS, hingga peristiwa Karbala yang menjadi catatan penting dalam sejarah umat Islam.

Karena itu, Muharram tidak hanya menjadi penanda pergantian tahun, tetapi juga momentum untuk meningkatkan kualitas ibadah dan melakukan refleksi diri.

Puasa Tasu`a dan Asyura

Salah satu amalan paling utama di bulan Muharram adalah menjalankan puasa sunnah pada tanggal 9 Muharram (Tasu`a) dan 10 Muharram (Asyura).

Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa puasa Asyura memiliki keutamaan besar, yakni dapat menghapus dosa-dosa kecil selama setahun yang telah lalu.

Untuk membedakan diri dari tradisi puasa yang dilakukan kaum Yahudi pada tanggal 10 Muharram, Rasulullah SAW juga menganjurkan umat Islam berpuasa sehari sebelumnya, yaitu pada tanggal 9 Muharram.

Memperbanyak Dzikir dan Istighfar

Muharram juga menjadi waktu yang tepat untuk memperbanyak dzikir dan memohon ampunan kepada Allah SWT.

Umat Islam dianjurkan memperbanyak bacaan seperti La ilaha illallah, Astaghfirullahal `azhim, serta Hasbunallahu wa ni`mal wakil. Amalan ini diyakini dapat menenangkan hati, memperkuat keimanan, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Membaca Doa Asyura

Pada malam maupun hari Asyura, umat Islam dianjurkan membaca doa-doa yang berisi pujian dan permohonan perlindungan kepada Allah SWT.

Salah satu doa yang banyak diamalkan adalah bacaan Hasbunallahu wa ni`mal wakil yang mencerminkan sikap tawakal dan ketergantungan penuh kepada Allah dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

Melaksanakan Shalat Sunnah Tasbih

Amalan lain yang dianjurkan adalah melaksanakan shalat sunnah Tasbih, terutama pada malam Asyura.

Shalat ini dikenal karena banyaknya bacaan tasbih yang diucapkan, sehingga menjadi sarana untuk memperbanyak dzikir dan mengagungkan kebesaran Allah SWT. Melalui ibadah ini, seorang Muslim diajak untuk memperkuat hubungan spiritual dengan Sang Pencipta.

Menyantuni Anak Yatim

Tanggal 10 Muharram juga dikenal luas di Indonesia sebagai Hari Anak Yatim. Karena itu, menyantuni anak yatim menjadi salah satu amalan yang sangat dianjurkan pada hari tersebut.

Rasulullah SAW menjanjikan kedudukan yang dekat di surga bagi mereka yang memuliakan dan menyayangi anak yatim. Bentuknya dapat berupa memberikan bantuan, berbagi makanan, atau sekadar memberikan perhatian dan kasih sayang.

Memberi Makan Orang yang Berpuasa

Bagi umat Islam yang tidak menjalankan puasa Asyura, memberi makan kepada orang yang berpuasa juga termasuk amalan yang memiliki pahala besar.

Dalam hadis disebutkan bahwa orang yang memberi makanan berbuka kepada orang yang berpuasa akan memperoleh pahala yang sama tanpa mengurangi pahala orang yang menjalankan puasa tersebut.

Meluaskan Nafkah untuk Keluarga

Muharram, khususnya pada hari Asyura, juga menjadi momentum untuk mempererat hubungan keluarga.

Dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa orang yang meluaskan nafkah kepada keluarganya pada hari Asyura akan mendapatkan keberkahan rezeki sepanjang tahun. Karena itu, banyak ulama menganjurkan untuk memperbanyak perhatian, kasih sayang, dan kebahagiaan kepada keluarga pada hari tersebut.

Memperbanyak Membaca Al-Qur`an

Membaca dan mentadabburi Al-Qur`an menjadi amalan yang tidak boleh ditinggalkan selama Muharram.

Sebagai bulan yang penuh keberkahan, Muharram merupakan waktu yang tepat untuk memperbanyak tilawah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui firman-Nya.

Momentum Taubat dan Muhasabah

Di atas seluruh amalan tersebut, Muharram sejatinya adalah momentum untuk bertaubat dan melakukan muhasabah atau introspeksi diri.

Sebagaimana Allah SWT menerima taubat Nabi Adam AS, bulan Muharram menjadi kesempatan bagi setiap Muslim untuk memperbaiki diri, meninggalkan kebiasaan buruk, dan memulai lembaran baru yang lebih baik.

Dengan memahami keutamaan Muharram dan mengisi bulan ini dengan berbagai amal saleh, umat Islam dapat menjadikan Tahun Baru Hijriah bukan sekadar pergantian kalender, melainkan momentum hijrah menuju kehidupan yang lebih berkah dan lebih dekat kepada Allah SWT. (*)

Wallahu`alam