• News

Menag Dampingi Presiden Jerman Telusuri Terowongan Silaturahmi Istiqlal-Katedral

Agus Mughni Muttaqin | Selasa, 16/06/2026 08:05 WIB
Menag Dampingi Presiden Jerman Telusuri Terowongan Silaturahmi Istiqlal-Katedral Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar dan Kardinal Ignatius Suharyo mendampingi Presiden Republik Federal Jerman Frank-Walter Steinmeier dan Ibu Negara Elke Büdenbender melintasi Terwongan Silaturahmi Istiqlal-Katedral (Foto: Kemenag)

JAKARTA - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyambut Presiden Republik Federal Jerman Frank-Walter Steinmeier dan Ibu Negara Elke Büdenbender saat mengunjungi Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta, Senin (15/6/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Presiden Jerman diajak menelusuri Terowongan Silaturahmi yang menghubungkan kedua rumah ibadah Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta sebagai simbol kerukunan antarumat beragama di Indonesia.

Presiden Steinmeier dan Ibu Negara tiba di Kompleks Masjid Istiqlal setelah menyelesaikan agenda kenegaraan di Istana Kepresidenan. Selain disambut Menag yang juga Imam Besar Masjid Istiqlal, keduanya turut didampingi Uskup Agung Jakarta Kardinal Ignatius Suharyo.

Di masjid terbesar di Asia Tenggara itu, Presiden Jerman berkesempatan melihat berbagai fasilitas, termasuk mimbar utama, serta mencoba memukul bedug yang menjadi salah satu simbol tradisi Islam di Indonesia.

Dari Istiqlal, Presiden Steinmeier bersama istri kemudian menelusuri Terowongan Silaturahmi menuju Gereja Katedral Jakarta. Setibanya di Katedral, mereka mendapat penjelasan mengenai sejarah, fungsi, dan nilai simbolik hubungan harmonis antara kedua rumah ibadah tersebut.

Menag Nasaruddin Umar mengatakan Presiden Jerman dan istri menunjukkan ketertarikan besar terhadap harmoni yang terbangun antara Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral.

"Setelah dari istana tadi langsung berkunjung ke Istiqlal, kemudian menelusuri Terowongan Silaturahmi hingga masuk ke Katedral. Mereka sangat terharu melihat sebuah kota yang sangat ideal, ada dua rumah ibadah yang sangat bersahabat yang ditandai dengan adanya terowongan yang menghubungkan keduanya," ujar Menag dalam siaran pers.

Menurut Menag, pengalaman melintasi terowongan tersebut memberikan kesan mendalam bagi Presiden Jerman beserta Istri. Karena dari satu sisi terdengar suara bedug dari Istiqlal, sementara semakin mendekati Katedral terdengar suara lonceng gereja.

"Di tengah-tengah (terowongan) ada kombinasi suara lonceng dan suara bedug. Ditambah ornamen-ornamen silaturahmi yang sangat indah. Itu yang membuat mereka sangat terkesan," ujar Menag.

Menag menilai kawasan Istiqlal-Katedral merupakan representasi nyata kehidupan keberagaman Indonesia yang sulit ditemukan di banyak negara lain. Karena itu, kawasan tersebut kerap menjadi destinasi yang diperkenalkan kepada para kepala negara dan tamu penting yang berkunjung ke Indonesia.

"Mereka sangat puas menyaksikan sebuah pemandangan yang sulit ditemukan di belahan dunia lain. Itulah kesan yang kami tangkap dari kunjungan tadi," tambah Menag.

Kardinal Ignatius Suharyo menjelaskan bahwa kedekatan antara Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral memiliki makna historis yang kuat sejak awal pembangunan bangsa Indonesia. Menurutnya, penempatan Masjid Istiqlal di kawasan tersebut merupakan keputusan Presiden pertama RI Soekarno yang sarat pesan kebangsaan.

Ia mengisahkan, saat proses penentuan lokasi Masjid Negara, Wakil Presiden Mohammad Hatta sempat mengusulkan lokasi lain. Namun Soekarno memilih kawasan yang kini menjadi lokasi Istiqlal karena dua alasan utama, yakni menghapus simbol kolonialisme dan menghadirkan lambang kehidupan berdampingan dalam keberagaman.

"Relasi antara Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral terus dibangun sebagai lambang bahwa kita hidup berdampingan sebagai warga negara Indonesia. Karena itu, setiap kali ada tamu negara, mereka diajak melihat langsung simbol ideal bangsa Indonesia untuk hidup bersama dalam perbedaan," tuturnya.

Kunjungan Presiden Jerman ke Istiqlal dan Katedral menegaskan posisi Indonesia sebagai negara yang terus merawat kerukunan antarumat beragama. Di tengah berbagai tantangan global terkait hubungan antaragama, Indonesia menunjukkan bahwa keberagaman dapat menjadi fondasi persatuan dan kekuatan bangsa.