Kapten timnas Swiss, Granit Xhaka (Foto: FIFA)
JAKARTA - Kapten timnas Swiss, Granit Xhaka, menyambut Piala Dunia 2026 dengan penuh optimisme.
Turnamen yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko itu akan menjadi penampilan keempatnya di ajang sepak bola terbesar dunia setelah edisi 2014, 2018, dan 2022.
Gelandang berusia 33 tahun tersebut telah mencatatkan 12 penampilan di Piala Dunia, terbanyak sepanjang sejarah timnas Swiss.
Sejak dipercaya mengenakan ban kapten pada akhir 2019, Xhaka terus menjadi sosok penting bagi negaranya.
"Saya beruntung dan merasa terhormat bisa bermain bersama banyak pemain hebat, serta menjadi bagian dari tim yang meraih banyak pencapaian dalam beberapa tahun terakhir. Tidak ada jaminan bahwa Anda akan selalu tampil di setiap putaran final turnamen besar," kata Xhaka dikutip dari laman resmi FIFA pada Minggu (7/6).
Saat mengenang perjalanan kariernya, Xhaka tak melupakan perjuangan kedua orang tuanya, Ragip dan Eli. Mereka meninggalkan bekas Yugoslavia dan membangun kehidupan baru di Basel, Swiss.
"Saya lahir di Swiss, tetapi bagi orang tua saya, itu adalah negara yang benar-benar baru," ujarnya.
Dari seorang anak yang mulai bermain sepak bola pada usia empat tahun, Xhaka kini menjadi kapten tim nasional dan kembali memimpin Swiss di panggung Piala Dunia.
"Hal itu membuat saya bangga dan bahagia. Anda tidak akan pernah melupakan semua kerja keras yang dilakukan sejak kecil. Salah satu mimpi saya telah menjadi kenyataan," katanya.
Pada 2025, Xhaka membuat keputusan yang mengejutkan banyak pihak. Ia meninggalkan Bayer Leverkusen, klub yang dibawanya meraih gelar domestik bersejarah, untuk bergabung dengan Sunderland yang baru promosi ke Liga Inggris.
Keputusan itu sempat menuai kritik karena dianggap sebagai langkah mundur dalam kariernya. Namun, Xhaka memiliki pandangan berbeda.
"Saya mengambil tantangan besar dan banyak orang mengkritik keputusan saya pindah dari klub Liga Champions ke tim yang baru promosi. Tetapi saya adalah tipe orang yang suka mengambil risiko. Saya menyukai tantangan, bukan hanya di lapangan tetapi juga di luar lapangan," ucap Xhaka.
Keputusan tersebut terbukti tepat. Bersama Sunderland, Xhaka berhasil membantu tim bertahan di Premier League dan bahkan mengamankan tiket ke Liga Europa musim berikutnya.
"Selama saya masih memiliki semangat untuk bangun setiap hari dan terus berkembang, Anda akan tetap melihat saya berada di lapangan," katanya.
Menjelang Piala Dunia 2026, Xhaka juga melihat perubahan besar dalam skuad Swiss. Banyak pemain senior telah pergi dan digantikan generasi muda yang mulai menunjukkan potensinya.
"Kami adalah tim yang sangat berbeda dibanding beberapa tahun lalu. Kami memiliki generasi baru dengan banyak pemain muda, tetapi juga perpaduan yang baik antara pengalaman dan energi muda. Penting bagi kami untuk bertanggung jawab dan menjadi contoh bagi mereka," katanya.
Swiss lolos ke Piala Dunia sebagai juara grup tanpa terkalahkan di bawah asuhan Murat Yakin.
Mereka mencatat empat kemenangan, dua hasil imbang, mencetak 14 gol, dan hanya kebobolan dua kali selama fase kualifikasi.
Xhaka pun menjanjikan penampilan maksimal dari timnya di Amerika Utara.
"Para suporter akan melihat tim yang solid, kompak di dalam maupun di luar lapangan. Tim yang akan memberikan segalanya hingga menit ke-90 atau bahkan menit ke-95," ujarnya.
Meski target awal Swiss adalah lolos dari fase grup, Xhaka mengaku memiliki impian yang lebih besar.
"Saya suka bermimpi dan saya bermimpi besar. Saya tidak akan mengucapkan kata yang sedang ada di pikiran saya saat ini. Tetapi semua orang boleh bermimpi, dan bermimpi itu hal yang baik," ujar Xhaka.
Ketika ditanya apakah Piala Dunia 2026 akan menjadi yang terakhir baginya, Xhaka memberikan jawaban yang tegas.
"Sejujurnya, saya rasa tidak. Selama saya masih memiliki semangat, tekad, dan yang terpenting kesehatan, saya ingin terus bermain selama mungkin," ucapnya.
Dengan pengalaman, kepemimpinan, dan ambisi yang masih menyala, Granit Xhaka siap memimpin Swiss mengejar pencapaian terbaik mereka di Piala Dunia 2026.
"Kami ingin mewujudkan mimpi kami dengan meraih sesuatu yang luar biasa," kata Xhaka.