Ilustrasi - Kitab Suci Al-Qur`an dan Tasbih (Foto: Pexels/Abdulmeilk Aldawsari)
JAKARTA - Al-Qur`an tidak hanya menjadi pedoman hidup umat Islam, tetapi juga menyimpan banyak isyarat ilmiah yang terus menarik perhatian para peneliti hingga saat ini.
Sejumlah ayat Al-Qur`an bahkan dinilai selaras dengan penemuan sains modern yang baru terungkap ratusan tahun setelah wahyu diturunkan.
Banyak ulama menilai hal tersebut menjadi salah satu bukti kebesaran Allah SWT sekaligus kemukjizatan Al-Qur`an yang tetap relevan sepanjang zaman.
Salah satu teori besar dalam astronomi modern adalah expanding universe atau alam semesta yang terus berkembang. Konsep ini ternyata telah disebutkan dalam Al-Qur`an.
Allah SWT berfirman:
وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ
Artinya:
“Dan langit Kami bangun dengan kekuasaan (Kami), dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.” (QS. Adz-Dzariyat: 47)
Para ilmuwan modern baru menemukan teori perluasan alam semesta pada abad ke-20 melalui pengamatan astronom Edwin Hubble.
Al-Qur`an juga menggambarkan gunung memiliki fungsi layaknya pasak yang menjaga kestabilan bumi.
Allah SWT berfirman:
أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ مِهَادًا وَالْجِبَالَ أَوْتَادًا
Artinya:
“Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan, dan gunung-gunung sebagai pasak?” (QS. An-Naba’: 6-7)
Dalam ilmu geologi modern, gunung memang memiliki akar yang menancap ke dalam lapisan bumi dan membantu menjaga kestabilan lempeng.
Fenomena pertemuan dua lautan dengan karakteristik berbeda juga disebutkan dalam Al-Qur`an.
Allah SWT berfirman:
مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لَا يَبْغِيَانِ
Artinya:
“Dia membiarkan dua laut mengalir yang kemudian keduanya bertemu, di antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing.” (QS. Ar-Rahman: 19-20)
Fenomena ini dapat ditemukan di beberapa lokasi dunia seperti Selat Gibraltar, tempat air laut dengan kadar garam berbeda bertemu namun tidak langsung bercampur sempurna.
Al-Qur`an juga menjelaskan kondisi laut dalam yang gelap dan dipenuhi gelombang berlapis.
Allah SWT berfirman:
أَوْ كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُجِّيٍّ يَغْشَاهُ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ مَوْجٌ
Artinya:
“Atau seperti gelap gulita di laut yang dalam, yang diliputi gelombang demi gelombang.” (QS. An-Nur: 40)
Sains modern membuktikan bahwa cahaya matahari tidak mampu menembus kedalaman laut tertentu sehingga menciptakan kegelapan total.
Salah satu ayat Al-Qur`an menyebutkan bahwa besi “diturunkan” ke bumi.
Allah SWT berfirman:
وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ
Artinya:
“Dan Kami turunkan besi yang padanya terdapat kekuatan hebat dan berbagai manfaat bagi manusia.” (QS. Al-Hadid: 25)
Sejumlah ilmuwan menjelaskan unsur besi di bumi berasal dari ledakan bintang atau meteor yang jatuh ke bumi miliaran tahun lalu.
Al-Qur`an menggambarkan langit sebagai atap pelindung bagi kehidupan di bumi.
Allah SWT berfirman:
وَجَعَلْنَا السَّمَاءَ سَقْفًا مَحْفُوظًا
Artinya:
“Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara.” (QS. Al-Anbiya: 32)
Atmosfer bumi diketahui memiliki fungsi penting melindungi makhluk hidup dari radiasi matahari dan benda luar angkasa.
Proses perkembangan manusia dalam rahim juga dijelaskan secara bertahap di dalam Al-Qur`an.
Allah SWT berfirman:
ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً
Artinya:
“Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging.” (QS. Al-Mu’minun: 14)
Penjelasan ini dinilai selaras dengan tahapan perkembangan embrio yang dipelajari dalam ilmu kedokteran modern.
Hadis tentang Merenungi Tanda Kekuasaan Allah
Rasulullah SAW juga mendorong umat Islam untuk memperhatikan tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta.
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
Artinya:
“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.” (HR. Bukhari)
Fenomena-fenomena tersebut menjadi pengingat bahwa Al-Qur`an bukan sekadar kitab ibadah, tetapi juga mengandung banyak pelajaran tentang kehidupan, alam semesta, dan kebesaran Allah SWT yang terus relevan hingga era modern.