• News

Mendikdasmen: Digitalisasi Adalah Prasyarat Mutu Pendidikan Nasional

Vaza Diva | Kamis, 30/04/2026 23:05 WIB
Mendikdasmen: Digitalisasi Adalah Prasyarat Mutu Pendidikan Nasional Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu`ti (Foto: Humas Kemendikdasmen)

LAMPUNG - Pemerintah terus mengakselerasi transformasi digital di ruang kelas melalui distribusi Interactive Flat Panel (IFP) guna menciptakan suasana belajar yang lebih interaktif dan partisipatif bagi siswa.

Di Kabupaten Tulang Bawang, Lampung, program digitalisasi ini telah menjangkau 3.334 satuan pendidikan sepanjang tahun 2025 dengan total serapan anggaran mencapai Rp109,7 miliar.

Bantuan teknologi tersebut tersebar luas di berbagai jenjang, mulai dari 877 PAUD, 1.694 SD, 562 SMP, hingga sekolah menengah (SMA/SMK), SLB, dan PKBM.

Terkait hal ini, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu`ti, menekankan bahwa seluruh bantuan perangkat digital tersebut harus dimanfaatkan secara optimal untuk mendorong peningkatan kualitas pembelajaran secara nyata di sekolah.

“Kami berharap agar semua bantuan dari pemerintah untuk digitalisasi dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk mendukung kualitas pembelajaran sebagai prasyarat untuk kita meningkatkan mutu pendidikan,” ujarnya di Kabupaten Tulang Bawang, Lampung, Selasa (28/4).

Di tingkat satuan pendidikan, kehadiran IFP membawa perubahan nyata dalam proses belajar mengajar. Guru Informatika SMP Negeri 2 Menggala, Widianto, menyampaikan bahwa sejak diterima pada November 2025, IFP langsung dimanfaatkan secara optimal oleh seluruh guru di sekolah.

“IFP ini digunakan secara bergantian oleh guru-guru sesuai jadwal, sehingga pemanfaatannya merata dari kelas 7 sampai kelas 9 dan untuk semua mata pelajaran,” jelasnya.

Menurutnya, kehadiran IFP membuat suasana kelas menjadi lebih hidup dan interaktif.

“Kehadiran IFP ini sangat membantu. Ketika saya mengajar menggunakan IFP, anak-anak sangat antusias. IFP memungkinkan mereka untuk berinteraksi langsung. Bahkan anak-anak sering meminta untuk belajar menggunakan IFP. Guru-guru lain pun kadang tidak sabar menunggu jadwal mengajar mereka. Ini sangat bermanfaat bagi kemajuan pendidikan di sekolah kami,” ungkap Widianto.

Widianto juga menuturkan bahwa keberhasilan pemanfaatan IFP tidak lepas dari dukungan pelatihan yang diberikan.

Ia mengikuti pelatihan penggunaan IFP pada Oktober 2025, yang mencakup pengenalan perangkat hingga pemanfaatan sumber belajar digital.

“Setelah pelatihan, saya langsung memberikan bimbingan kepada guru yang lain, jadi tidak hanya saya yang bisa menggunakan,” ujarnya.

Dari sisi murid, perubahan tersebut terasa langsung dalam pengalaman belajar. Murid kelas VIII SMP Negeri 2 Menggala, Fatria Arina Aru, mengaku antusias sejak pertama kali menggunakan IFP.

“Kami sangat senang bisa belajar menggunakan teknologi yang baru. Dulu kami menggunakan papan tulis dan proyektor, kadang gambarnya kurang jelas. Sekarang dengan IFP, tampilannya lebih jelas dan menarik,” tuturnya.

Ia menambahkan bahwa pembelajaran menjadi lebih aktif dan menyenangkan.

“Dengan layar sentuh, kami bisa langsung berinteraksi dan ada permainan edukatif juga. IFP ini membuat kami lebih semangat untuk belajar dan datang ke sekolah,” ungkap Fatria.

Pemanfaatan IFP di Kabupaten Tulang Bawang menunjukkan bahwa program Digitalisasi Pembelajaran tidak hanya menghadirkan teknologi di kelas, tetapi juga mengubah cara belajar menjadi lebih aktif, interaktif, dan bermakna.

Dengan dukungan berkelanjutan, program ini diharapkan terus memperluas akses pembelajaran digital sekaligus mendorong peningkatan kualitas pendidikan di berbagai daerah.