• Info MPR

Lokakarya Kelompok DPD MPR Dorong Peran Strategis Perempuan Era Digital

Agus Mughni Muttaqin | Minggu, 12/04/2026 18:04 WIB
Lokakarya Kelompok DPD MPR Dorong Peran Strategis Perempuan Era Digital Ketua Kelompok DPD di MPR, Dr. H. Dedi Iskandar Batubara (Foto: kwp)

JAKARTA - Kelompok Dewan Perwakilan Daerah (DPD) di Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) menggelar lokakarya bertajuk “Peran Perempuan Dalam Pembentukan Karakter Bangsa di Era Digital” di Ballroom Hotel Santika, Kota Medan, Minggu (12/04/2026).

Kegiatan ini menjadi forum strategis untuk memperkuat peran perempuan dalam menghadapi dinamika transformasi digital yang kian kompleks.

Lokakarya yang dibagi dalam dua sesi diskusi ini diikuti oleh Pengurus Wilayah (PW) Angkatan Putri Al-Washliyah Provinsi Sumatera, menghadirkan narasumber dari unsur pimpinan dan anggota DPD di MPR.

Narasumber tersebut di antaranya ialah Dr. Habib Ali Alwi, Dr. Hj. Elviana, dan Dr. Maya Rumantir. Selain itu, turut hadir para pakar dan ahli dari akademisi dan pegiat pendidikan yakni Dr. Asnil Aidah Ritonga, Zubaidah Khan, dan Dr. Dra. Hj. Meyniar Albina.

Ketua Kelompok DPD di MPR, Dr. H. Dedi Iskandar Batubara dalam sambutannya sebelum membuka acara menegaskan bahwa era digital telah membawa perubahan fundamental dalam kehidupan masyarakat.

“Transformasi digital telah mengubah cara kita berinteraksi, mengakses informasi, hingga membentuk opini. Media sosial kini menjadi ruang publik baru yang sangat menentukan arah nilai, budaya, dan karakter bangsa,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa perempuan memiliki posisi yang sangat strategis dalam konteks tersebut. Sebagai madrasatul ula, pendidik pertama dalam keluarga, perempuan berperan penting dalam membentuk fondasi karakter generasi.

Di era digital, peran itu semakin luas, di mana perempuan tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga aktor sosial yang aktif dalam edukasi, advokasi, dan partisipasi demokrasi.

“Perempuan hari ini adalah penentu arah narasi publik. Perannya tidak lagi terbatas di ruang domestik, tetapi juga hadir kuat di ruang digital,” ujarnya.

Namun demikian, Senator asal Sumatera Utara ini juga menyoroti berbagai tantangan nyata yang dihadapi perempuan di ruang digital. Ia mengungkapkan bahwa perempuan masih rentan terhadap kekerasan digital seperti body shaming, misogini, serta standar ganda yang kerap muncul di media sosial.

“Algoritma digital seringkali mendorong sensasi dan viralitas, yang tidak jarang mengorbankan kebenaran dan etika. Ini menjadi tantangan serius dalam pembentukan karakter bangsa,” katanya.

Di sisi lain, ia mengapresiasi meningkatnya kesadaran dan daya kritis perempuan, khususnya generasi muda, dalam menyikapi arus informasi. Perempuan kini semakin aktif sebagai produsen konten sekaligus penggerak opini publik, serta memanfaatkan media sosial sebagai sumber pengetahuan bagi keluarga dan masyarakat.

Dedi juga menyoroti adanya tekanan sosial yang dihadapi perempuan dalam mengekspresikan diri di era digital, di mana terdapat tarik-menarik antara keaslian identitas dengan ekspektasi sosial yang normatif. Hal ini, menurutnya, turut memengaruhi pembentukan karakter, baik pada individu maupun generasi yang meneladani.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa perempuan memiliki peran kunci dalam keluarga sebagai kurator informasi, memilah, memahami, dan mentransmisikan nilai-nilai kepada generasi berikutnya. Dengan demikian, perempuan menjadi fondasi utama dalam membangun ekosistem informasi yang sehat dan berkarakter.

Dalam konteks demokrasi, partisipasi perempuan di ruang digital dinilai mampu memperkaya diskursus publik.  Namun, masih terdapat tantangan berupa perundungan, diskriminasi, dan delegitimasi terhadap suara perempuan, sehingga diperlukan penguatan kapasitas, perlindungan, serta solidaritas kolektif.

Sebagai langkah ke depan, Dedi menggarisbawahi pentingnya agenda strategis berupa penguatan literasi digital berbasis nilai dan etika, penciptaan ruang digital yang aman, inklusif, dan berkeadilan gender, serta optimalisasi peran perempuan sebagai agen pembentukan karakter bangsa.

“Pembentukan karakter bangsa di era digital sangat ditentukan oleh kualitas peran perempuan. Perempuan adalah pilar utama dalam membangun ekosistem digital yang sehat dan berkarakter,” pungkasnya.

Melalui lokakarya ini, diharapkan tercipta ruang konsolidasi gagasan, penguatan kapasitas, serta afirmasi peran perempuan, sehingga mampu menjadi kekuatan utama dalam menjaga arah moral dan karakter bangsa di tengah derasnya arus digitalisasi.