Ilustrasi - Bani Israil (Foto: Ist/Terasmuslim.com)
JAKARTA - Al-Qur`an menghadirkan kisah Bani Israil secara berulang bukan tanpa tujuan, melainkan sebagai pelajaran mendalam bagi umat Nabi Muhammad SAW.
Narasi ini menjadi cermin besar tentang bagaimana manusia menyikapi nikmat, ketaatan, dan ujian dari Allah SWT.
Pengulangan tersebut merupakan metode Ilahiyah agar umat Islam mampu mengambil hikmah dan tidak mengulangi kesalahan serupa di masa yang akan datang.
Bani Israil dikenal sebagai kaum yang mendapatkan banyak keistimewaan, termasuk diutusnya para nabi dari kalangan mereka serta berbagai mukjizat nyata yang diperlihatkan oleh Allah.
Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur`an:
يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ
Artinya: “Wahai Bani Israil, ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku berikan kepadamu dan bahwa Aku telah melebihkan kamu di atas segala umat (pada masa itu).” (QS. Al-Baqarah: 47)
Mereka menyaksikan berbagai tanda kekuasaan Allah, seperti terbelahnya laut dan turunnya makanan dari langit.
Namun, keutamaan tersebut tidak selalu diiringi dengan ketaatan. Banyak di antara mereka justru menunjukkan sikap ingkar dan tidak bersyukur terhadap nikmat yang telah diberikan.
Penyimpangan yang terjadi pada Bani Israil sering berawal dari pelanggaran terhadap perintah Allah serta pengingkaran terhadap perjanjian yang telah mereka sepakati.
Al-Qur`an menggambarkan hal ini dengan tegas:
وَأَوْفُوا بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ
Artinya: “Dan penuhilah janji-Ku, niscaya Aku penuhi janji kalian.” (QS. Al-Baqarah: 40)
Namun dalam praktiknya, mereka justru kerap mengingkari janji tersebut, bahkan mengganti hukum Allah dengan kepentingan duniawi. Hal ini menunjukkan bahwa nikmat yang besar dapat berubah menjadi kehinaan apabila tidak disertai dengan rasa syukur dan ketaatan.
Rasulullah SAW juga telah mengingatkan bahwa umat Islam berpotensi mengikuti jejak umat terdahulu jika tidak berhati-hati.
Dalam sebuah hadis disebutkan:
لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ
Artinya: “Sungguh, kalian akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Peringatan ini menjadi relevan karena sifat lalai, cinta dunia, dan kerasnya hati dapat menimpa siapa saja yang tidak menjaga keimanan dan ketakwaannya.
Oleh karena itu, kisah Bani Israil menjadi refleksi penting agar umat Islam senantiasa waspada terhadap penyimpangan.
Selain itu, Al-Qur`an juga menegaskan bahwa kemuliaan suatu kaum tidak ditentukan oleh keturunan atau status, melainkan oleh ketakwaan.
Hal ini ditegaskan dalam firman Allah:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
Artinya: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Ayat ini menjadi penegasan bahwa status sebagai umat pilihan dapat hilang jika tidak diiringi dengan amal saleh dan komitmen terhadap ajaran agama.
Dengan demikian, kebanggaan terhadap identitas tanpa dibarengi ketakwaan justru dapat menjerumuskan seseorang ke dalam kesesatan.