• Gaya Hidup

Peneliti Temukan Cara Baru Ubah Limbah Plastik Jadi Bahan Bakar Hidrogen

Agus Mughni Muttaqin | Sabtu, 11/04/2026 23:05 WIB
Peneliti Temukan Cara Baru Ubah Limbah Plastik Jadi Bahan Bakar Hidrogen Ilustrasi limbah plastik (Foto: Reuters)

JAKARTA - Peneliti menemukan cara baru mengubah limbah plastik menjadi bahan bakar hidrogen menggunakan sistem bertenaga surya. Studi yang dipublikasikan di jurnal Joule ini membuka peluang memanfaatkan dua jenis limbah sekaligus, yakni plastik sulit didaur ulang dan asam dari baterai bekas.

Riset yang dipimpin Profesor Erwin Reisner dari University of Cambridge menunjukkan bahwa plastik dapat diuraikan menggunakan asam sulfat bekas aki mobil.

Dikutip dari Earth, proses ini memecah rantai panjang plastik menjadi molekul lebih kecil yang kemudian diolah menjadi hidrogen dan bahan kimia bernilai seperti asam asetat.

“Penemuan ini hampir terjadi secara tidak sengaja,” ujar Reisner. Ia mengatakan bahwa pendekatan ini berbeda dari metode daur ulang konvensional karena memanfaatkan reaksi kimia berbasis cahaya matahari yang lebih hemat energi.

Dalam prosesnya, asam berperan penting untuk memecah plastik keras seperti botol, nilon, hingga poliuretan. Setelah itu, material khusus bernama fotokatalis menggunakan energi matahari untuk menghasilkan hidrogen, sekaligus mengubah sisa karbon menjadi asam asetat.

Hasil penelitian menunjukkan tingkat efisiensi tinggi, dengan sekitar 89 persen produk yang dihasilkan berupa asam asetat. Selain itu, sistem ini mampu bekerja hingga 260 jam, menunjukkan potensi stabilitas untuk penggunaan jangka panjang.

Menariknya, penelitian ini juga memanfaatkan limbah asam dari baterai bekas yang selama ini menjadi masalah lingkungan tersendiri. Alih-alih dinetralkan dan dibuang, asam tersebut dapat digunakan kembali dalam proses produksi energi.

Dalam uji coba, asam dari baterai bekas menghasilkan performa yang hampir setara dengan asam baru. Hal ini membuka peluang pengurangan biaya sekaligus mengatasi dua jenis limbah dalam satu proses.

Selain plastik botol, sistem ini juga berhasil mengolah bahan lain yang sulit didaur ulang. Nilon menghasilkan hidrogen dan produk samping, sementara poliuretan bahkan menunjukkan produksi hidrogen tertinggi.

Meski masih dalam tahap laboratorium, para peneliti telah menguji versi reaktor skala lebih besar yang mampu beroperasi selama beberapa hari. Bahkan, versi portabel dapat mulai menghasilkan hidrogen hanya dalam waktu 30 menit.

Namun demikian, peneliti mengingatkan bahwa teknologi ini belum menjadi solusi tunggal untuk krisis plastik global. “Kami tidak menjanjikan untuk menyelesaikan seluruh masalah plastik dunia,” kata Reisner.

Ke depan, teknologi ini dinilai berpotensi menjadi pelengkap metode daur ulang yang ada. Dengan kombinasi sinar matahari, limbah plastik, dan asam bekas, pendekatan ini menawarkan jalan baru menuju produksi energi yang lebih berkelanjutan. (*)