• News

Trump Ragukan Gencatan Senjata Iran, PM Israel Buka Pintu Negosiasi

Vaza Diva | Jum'at, 10/04/2026 13:30 WIB
Trump Ragukan Gencatan Senjata Iran, PM Israel Buka Pintu Negosiasi Arisp - Pemandangan udara pantai-pantai Iran dan pulau Qeshm di selat Hormuz (Foto: REUTERS)

DUBAI - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mempertanyakan efektivitas gencatan senjata yang seharusnya mengakhiri perang Iran, sementara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu membuka peluang baru dengan mengizinkan negosiasi langsung dengan Lebanon.

Dalam unggahannya di media sosial pada Kamis (9/4) malam, Trump menyindir Iran yang dinilai tidak menepati kesepakatan terkait pembukaan Selat Hormuz.

"Iran melakukan pekerjaan yang sangat buruk, bahkan bisa dibilang tidak terhormat, dengan mengizinkan minyak melewati Selat Hormuz. Itu bukan kesepakatan yang kita miliki!" tulis Trup dikutip dari Associated Press pada Jumat (10/4).

Sebelumnya, Trump juga mengunggah peringatan keras kepada Teheran. "Ada laporan bahwa Iran mengenakan biaya kepada kapal tanker yang melewati Selat Hormuz — Sebaiknya mereka tidak melakukannya dan, jika mereka melakukannya, mereka sebaiknya berhenti sekarang!"

Gedung Putih menekankan bahwa pembukaan kembali selat itu merupakan bagian dari kesepakatan gencatan senjata, dan menyatakan Trump menentang upaya militer Iran yang terus mengendalikan jalur air tersebut untuk memungut biaya tol dari kapal-kapal yang melintas.

Di sisi lain, Netanyahu menyampaikan kabar yang dinilai dapat memperkuat prospek perdamaian di kawasan. Dia mengatakan telah mengizinkan negosiasi langsung dengan Lebanon sesegera mungkin, yang bertujuan melucuti senjata Hizbullah yang didukung Iran sekaligus membangun hubungan bilateral antara kedua negara bertetangga itu.

Meski demikian, Netanyahu menegaskan bahwa tidak ada gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah, dan Israel akan terus menyerang kelompok tersebut hingga keamanan di Israel utara dipulihkan.

Kedua negara secara teknis masih berada dalam status perang sejak Israel berdiri pada 1948. Belum ada tanggapan langsung dari Lebanon, namun negosiasi Israel-Lebanon diperkirakan akan dimulai pekan depan di Departemen Luar Negeri AS di Washington.

Pihak Amerika akan diwakili oleh Duta Besar AS untuk Lebanon Michel Issa, sementara Israel akan mengirim Duta Besar untuk AS Yechiel Leiter. Pejabat yang akan mewakili Lebanon belum diumumkan.

Trump sendiri menyatakan optimismenya terhadap prospek perdamaian. Dia menyampaikan bahwa para pemimpin Iran lebih mudah diajak bernegosiasi dalam percakapan pribadi dibanding dalam pernyataan publik mereka.

Namun, jalan menuju perdamaian masih panjang dan penuh hambatan. Prospek pembicaraan terganjal oleh pemboman Israel terhadap Beirut yang menjadi hari paling mematikan di Lebanon sejak perang dimulai pada 28 Februari, cengkeraman Iran yang masih kuat di Selat Hormuz, serta ketidakpastian apakah negosiasi dapat menemukan titik temu.

Israel telah berulang kali berperang dan melancarkan beberapa invasi besar ke Lebanon selama puluhan tahun, termasuk pengiriman pasukan bulan lalu sebagai respons atas tembakan Hizbullah ke komunitas perbatasan utara Israel.