Ilustrasi Zoroasterianisme (Foto: welcometoiran)
JAKARTA - Di antara deretan keyakinan tertua yang pernah mewarnai peradaban manusia, Zoroastrianisme menempati posisi yang sangat unik dan fundamental.
Muncul di wilayah Persia kuno atau yang kini kita kenal sebagai Iran sekitar 3.500 tahun yang lalu, ajaran ini bukan sekadar relik masa lalu melainkan fondasi bagi banyak konsep teologis yang masih hidup dalam agama-agama besar dunia saat ini.
Dibawa oleh seorang nabi bernama Zarathustra atau Zoroaster, agama ini memperkenalkan sistem monoteisme radikal yang memusatkan penyembahan pada satu Tuhan yang bijaksana yakni Ahura Mazda.
Melansir dari berbagai sumber, kehadiran Zoroastrianisme membawa revolusi pemikiran pada zamannya dengan memperkenalkan konsep dualisme moral yang tajam antara kekuatan cahaya dan kegelapan.
Dalam pandangan kosmologinya, dunia merupakan medan pertempuran abadi antara Ahura Mazda yang mewakili kebaikan, kebenaran, dan keteraturan melawan Angra Mainyu atau Ahriman yang mewakili kehancuran serta kebohongan.
Pertarungan kosmik ini tidak hanya terjadi di level langit, namun juga terefleksi dalam setiap keputusan yang diambil oleh manusia di bumi.
Zarathustra memberikan penekanan pada kebebasan berkehendak manusia untuk memilih di antara kedua kekuatan tersebut.
Inti dari praktik kehidupan penganutnya dirangkum dalam tiga pilar etika yang sederhana namun mendalam yaitu pikiran yang baik (Humata), kata-kata yang baik (Hukhta), dan perbuatan yang baik (Huvarshta).
Ketiga prinsip ini diyakini sebagai jalan bagi individu untuk membantu kemenangan kebaikan dan mencapai kebahagiaan abadi setelah kematian.
Satu hal yang sering kali disalahpahami oleh masyarakat umum adalah penggunaan api dalam ritual keagamaan mereka. Zoroastrianisme sering disebut sebagai penyembah api, padahal bagi para pengikutnya api merupakan simbol kesucian dan cahaya ilahi dari Ahura Mazda.
Api dianggap sebagai media yang paling murni untuk memfokuskan pikiran saat berdoa, serupa dengan penggunaan ikon atau simbol suci di berbagai keyakinan lain.
Kitab suci mereka yang bernama Avesta menyimpan berbagai doa, himne yang disebut Gathas, serta aturan-aturan liturgi yang telah diwariskan secara lisan selama berabad-abad sebelum akhirnya dibukukan.
Sejarah mencatat bahwa Zoroastrianisme pernah menjadi agama resmi dari kekaisaran-kekaisaran besar Persia seperti Akhemeniyah, Partia, dan Sasaniyah yang wilayahnya membentang luas dari Asia Tengah hingga Mesir.
Pada masa keemasannya, ajaran ini memberikan pengaruh signifikan terhadap perkembangan yudaisme, kristen, dan islam melalui konsep-konsep seperti surga dan neraka, hari penghakiman, kebangkitan jasmani, serta keberadaan sosok penyelamat di akhir zaman.
Namun, kejayaan politik agama ini mulai memudar setelah penaklukan Islam di Persia pada abad ke-7 Masehi.
Sebagian besar penganutnya bermigrasi ke wilayah India demi mempertahankan keyakinan mereka, di mana mereka kemudian dikenal sebagai komunitas Parsi.
Di India, komunitas ini berkembang menjadi kelompok minoritas yang sangat berpengaruh dalam bidang ekonomi, sains, dan filantropi, meskipun mereka menjaga tradisi eksklusifitas yang ketat dalam hal keturunan.
Saat ini jumlah penganut Zoroastrianisme di seluruh dunia diperkirakan hanya tersisa sekitar 125.000 hingga 200.000 jiwa.
Sebagian besar masih menetap di India dan Iran, sementara sisanya tersebar di Amerika Utara dan Eropa akibat gelombang diaspora modern.