• News

IRGC Serang Kapal Kontainer Israel dan Kapal Serbu AS

M. Habib Saifullah | Selasa, 07/04/2026 15:27 WIB
IRGC Serang Kapal Kontainer Israel dan Kapal Serbu AS Letnan Kolonel Ebrahim Zolfaghari, juru bicara militer Iran dalam perang melawan AS dan Israel. Foto/Tasnim News Agency

JAKARTA - Korps Garda Revolusi Islam atau Islamic Revolution Guard Corps (IRGC) Iran menyatakan bahwa pihaknya telah menyerang sebuah kapal kontainer milik Israel dan sebuah kapal serbu Amerika Serikat (AS).

Melalui saluran berita resmi mereka, Sepah News, IRGC memberikan penjelasan secara rinci mengenai gelombang serangan ke-98 mereka terhadap target-target Israel dan AS, yang dilancarkan sebelumnya pada hari itu.

Melansir Antara, Selasa (7/4/2026) IRGC mengidentifikasi kapal kontainer tersebut sebagai "SDN7", dengan menyatakan kapal itu terkena hantaman rudal jelajah secara presisi dan terbakar.

Laporan itu menyebut bahwa kapal serbu amfibi AS, USS Tripoli (LHA-7), yang mengangkut lebih dari 5.000 personel, terpaksa mundur ke bagian selatan Samudra Hindia setelah menjadi target serangan.

IRGC menambahkan, pasukannya juga telah menyerang pusat-pusat strategis di Kota Haifa, Israel, serta perusahaan dan pabrik petrokimia di Be`er Sheva menggunakan rudal balistik presisi, yang menyebutkan bahwa sebuah lokasi berkumpulnya pasukan Israel di Petah Tikva, Israel tengah, juga menjadi target serangan.

Menurut IRGC, di antara target-target lain yang terkena hantaman rudal dan drone mencakup sebuah pusat produksi bersama kendaraan udara nirawak (unmanned aerial vehicle/UAV) milik Uni Emirat Arab dan Israel, serta sejumlah pesawat di Pangkalan Udara Ali Al Salem di negara Arab tersebut.

Pada 28 Februari, Israel dan AS melancarkan serangan gabungan terhadap Teheran dan beberapa kota Iran lainnya, yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.

Selain itu serangan tersebut juga menewaskan beserta sejumlah komandan militer senior dan warga sipil.

Iran merespons dengan melancarkan gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan Israel dan aset-aset AS di Timur Tengah, serta menerapkan kendali yang ketat atas Selat Hormuz.