• Sains

Misteri Kota Maya yang Tenggelam di Danau Atitlan Akhirnya Terungkap

M. Habib Saifullah | Minggu, 05/04/2026 17:05 WIB
Misteri Kota Maya yang Tenggelam di Danau Atitlan Akhirnya Terungkap Para peneliti telah mengkonfirmasi bahwa sebuah permukiman besar peradaban Maya terendam di bawah Danau Atitlan (Foto: Earth)

JAKARTA - Sebuah tim peneliti berhasil mengonfirmasi keberadaan permukiman besar peradaban Maya yang terawetkan secara utuh di dasar Danau Atitlan, dataran tinggi Guatemala.

Temuan ini mengubah perspektif arkeologi global, dari yang semula dianggap sebagai reruntuhan berserakan menjadi sebuah desa berpenghuni yang tenggelam akibat fenomena alam.

Danau Atitlan, yang berdiri di atas kaldera vulkanik seluas 53 mil persegi, dikenal memiliki geologi yang tidak stabil.

Tanpa saluran keluar permukaan, ketinggian air danau sangat bergantung pada curah hujan, rembesan, hingga aktivitas tektonik.

Para ahli geologi mencatat perubahan permukaan air dapat mencapai lebih dari 33 kaki, yang menjelaskan bagaimana sebuah permukiman di pulau dapat tenggelam tanpa menghancurkan struktur batunya.

Melansir laporan Earth, misi penelitian yang dilakukan pada tahun 2022 ini menggunakan teknologi sonar canggih untuk mempersempit area pencarian di titik yang disebut sebagai A4.

Sebanyak delapan penyelam dikerahkan untuk melakukan eksplorasi selama 2.400 menit di bawah air.

Hasil dokumentasi menunjukkan adanya kompleks ruang tinggal yang terorganisir, terdiri dari platform, alun-alun (plaza), tugu peringatan, hingga ruangan berbentuk persegi panjang.

Temuan di kedalaman 51 kaki di bawah permukaan air modern tersebut mengungkap lapisan tanah purba (paleosol) yang pernah menjadi pijakan masyarakat Maya.

Uji sedimen sedalam 16 inci di dekat Monumen 1 menunjukkan garis waktu yang jelas. Pecahan keramik dan serpihan batu obsidian yang ditemukan mengindikasikan bahwa masa hunian situs ini berasal dari Periode Praklasik Akhir, yakni sekitar 350 SM hingga 250 M.

Identitas situs ini pun kini tengah menjadi sorotan. Nama lama situs, "Samabaj", kini dipersengketakan.

Masyarakat lokal telah mengusulkan tiga nama pengganti dalam bahasa Tz`utujil untuk memastikan reruntuhan tersebut tetap terikat secara kultural dengan keturunan mereka, bukan sekadar objek wisata terpisah.

Peneliti mencatat bahwa apa yang terpendam di bawah Danau Atitlan saat ini bukan hanya masalah arkeologi, melainkan juga simbol kelangsungan hidup budaya di tengah tekanan politik dan klaim warisan dari berbagai kelompok.