Peta yang menunjukkan Selat Hormuz terlihat dalam ilustrasi ini yang diambil pada tanggal 22 Juni 2025. REUTERS
Jakarta, Jurnas.com - Selat Hormuz sering kali menghiasi tajuk utama berita global sebagai "urat nadi" energi dunia yang menentukan stabilitas ekonomi lintas benua.
Namun, di balik ketegangan geopolitik dan hilir mudik kapal tanker raksasa, tersimpan sebuah narasi kuno tentang asal-usul namanya yang jarang diketahui publik.
Nama Hormuz merupakan warisan peradaban yang berakar dari spiritualitas Persia kuno hingga kekayaan alam pesisir Teluk.
Mulai dari keterkaitannya dengan sosok dewa dalam kepercayaan Zoroastrianisme, Ahura Mazda, hingga sebutan bagi rimbunnya pohon kurma di masa lampau, sejarah penamaan selat ini menyimpan filosofi yang mendalam.
Dihimpun dari berbagai sumber, secara historis, penamaan "Hormuz" memiliki akar yang kuat dalam tradisi Persia kuno.
Sebagian besar sejarawan dan ahli etimologi mengaitkan nama tersebut dengan sosok dewa utama dalam kepercayaan Zoroastrianisme, yaitu Ahura Mazda.
Dalam perkembangan linguistik selama berabad-abad, nama Ahura Mazda yang melambangkan prinsip kebaikan dan cahaya tersebut mengalami penyusutan pelafalan menjadi Ormuzd, yang kemudian beradaptasi menjadi Hormuz dalam lidah lokal dan literatur internasional.
Teori lain yang cukup populer di kalangan peneliti sejarah maritim mengaitkan nama selat ini dengan kekayaan alam di wilayah pesisirnya.
Kata tersebut diduga berasal dari bahasa Persia, Hur-mogh, yang secara harfiah berarti pohon kurma.
Hal ini merujuk pada kondisi geografis wilayah pesisir di sekitar selat yang pada masa lampau merupakan lahan subur bagi perkebunan kurma, yang menjadi komoditas utama masyarakat setempat sebelum era industrialisasi minyak bumi.
Keberadaan nama Hormuz mulai tercatat secara masif dalam peta-peta dunia seiring dengan berdirinya Kerajaan Hormuz pada abad ke-10 hingga ke-17.
Kerajaan ini sempat menguasai perdagangan di kawasan Teluk dan menjalin hubungan diplomatik hingga ke daratan Eropa dan Asia Timur.
Pada masa keemasannya, pulau dan kota Hormuz diidentikkan sebagai "Permata di Cincin Dunia" karena kemakmuran yang dihasilkan dari kendali penuh atas lalu lintas kapal dagang di selat tersebut.
Masuknya pengaruh kolonial, terutama Portugis pada abad ke-16, semakin memperkokoh penggunaan nama Hormuz di peta navigasi global.
Meski kekuasaan politik di wilayah tersebut terus berganti, mulai dari kekaisaran Persia, pengaruh Arab, hingga modernitas negara-negara teluk saat ini, nama Hormuz tetap bertahan tanpa mengalami perubahan signifikan.
Hingga hari ini, Selat Hormuz tidak hanya menyandang beban sebagai jalur transportasi energi yang krusial bagi stabilitas ekonomi dunia, tetapi juga membawa identitas budaya dan spiritualitas kuno yang terpatri dalam namanya.