• Kesra

Gegara Trump, Siswa RI Bakal Lari Pulang-Pergi ke Sekolah

Agus Mughni Muttaqin | Senin, 30/03/2026 23:53 WIB
Gegara Trump, Siswa RI Bakal Lari Pulang-Pergi ke Sekolah Mendikdasmen Abdul Mu`ti meninjau pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Satuan Pendidikan (MPLS) Ramah di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (Foto: Ist/Humas Kemendikdasmen)

JAKARTA - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu`ti mengimbau siswa dan guru berjalan kaki ke sekolah. Imbauan ini Mendikdasmen sampaikan di tengah kekhawatiran pemerintah terhadap potensi krisis minyak dan gas (migas) global imbas konflik di Timur Tengah.

Imbauan tersebut ditekankan bagi siswa dan guru yang bertempat tinggal tidak jauh dari satuan pendidikan. Menurut Mendikdasmen, dengan berjalan kaki maupun naik sepeda diharapkan dapat menghemat penggunaan bahan bakar.

"Kalau yang rumahnya dekat dari sekolah, kalau memang kira-kira aman dan nyaman, saya kira tidak ada salahnya jalan kaki misalnya kan, atau kembali kepada kebiasaan bersepeda," ujar Menteri Mu`ti di Jakarta, Senin (30/3).

Kebiasaan berjalan kaki atau bersepeda, lanjut Menteri Mu`ti, sudah pernah dipraktikkan siswa dan guru ketika adanya pembatasan akibat pandemi Covid-19 selama periode 2020-2022.

"Kenapa kebiasaan itu enggak kita juga lanjutkan lagi (seperti masa Covid-19)? Itu kan sehat dan juga bisa hemat energi dan bersih lingkungan," ujarnya.

Adapun bagi siswa dan guru membutuhkan transportasi bermotor untuk mencapai sekolah, Mendikdasmen mengimbau mereka memaksimalkan transportasi umum alih-alih kendaraan pribadi.

Penggunaan transportasi umum menurut Mendikdasmen juga bisa melecut pemerintah daerah agar melakukan pembenahan.

"Ini menjadi tantangan bagi pemerintah daerah di mana pun untuk memperbaiki sarana transportasi umum sehingga anak-anak kita ini bisa berangkat ke sekolah dengan menggunakan transportasi umum itu kan lebih himat energi, juga bisa mengurangi polusi," ujar dia.

Diketahui, pada 28 Februari lalu, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran hingga menyebabkan kerusakan dan korban sipil. Iran membalas dengan menyerang wilayah Israel serta fasilitas militer milik Amerika yang berada di Timur Tengah.

Eskalasi di sekitar Iran itu menyebabkan terhentinya lalu lintas secara de facto di Selat Hormuz, yang merupakan jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global, hingga berdampak pada ekspor dan produksi minyak di kawasan.

Pada Sabtu (21/3), Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersiap meledakkan pembangkit listrik Iran, jika Selat Hormuz tidak sepenuhnya dibuka kembali dalam waktu 48 jam. Padahal sehari sebelumnya, dia bicara tentang mengakhiri perang.

Ultimatum Trump akan memperluas cakupan serangan AS ke infrastruktur yang memengaruhi kehidupan sipil sehari-hari di Iran.

Namun, dikutip dari Straits Times pada Minggu (22/3), markas komando militer Khatam al-Anbiya Iran mengatakan jika AS menyerang infrastruktur bahan bakar dan energi Iran, maka Iran akan menargetkan semua infrastruktur energi, teknologi informasi, dan desalinasi AS di kawasan tersebut.

Ancaman serangan Iran sebelumnya menghalangi sebagian besar kapal untuk melewati Selat Hormuz, jalur air sempit yang berfungsi sebagai jalur bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global.

Bahkan, sebagaimana diketahui, dua kapal tanker Pertamina masih tertahan akibat meningkatnya ketegangan di kawasan tersebut, termasuk kebijakan penutupan Selat Hormuz oleh Iran sebagai respons konflik dengan Amerika Serikat dan Israel. (*)