Pelaksanaan Grebeg Syawal yang digelar di lingkungan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat (Foto: Kemenpanrb)
JAKARTA - Bulan Syawal atau Sawal dalam tradisi Jawa bukan sekadar penanda waktu setelah Ramadan. Bulan ini adalah titik pertemuan budaya, spiritualitas, dan sejarah panjang masyarakat Jawa, di mana tradisi turun-temurun menguatkan ikatan sosial sekaligus menjadi refleksi nilai kehidupan.
Dalam kalender Jawa, bulan Syawal mencatat akulturasi Islam, Hindu-Buddha, dan adat lokal yang membentuk identitas kultural yang khas. Pada masa Sultan Agung, kalender Saka diganti menjadi kalender lunar atau Qamariah, namun hitung tahun tetap dipertahankan, menegaskan kesinambungan tradisi tanpa menghapus akar sejarah.
Sejak itu, Syawal tidak hanya dimaknai sebagai lanjutan Ramadan, tetapi juga sebagai simbol “wurana”, pembuktian spiritual setelah menjalankan puasa. Setiap ritual dan tradisi dalam bulan ini sarat makna, dari perhitungan hari baik (petungan) hingga kegiatan sosial dan budaya.
Di Solo dan Yogyakarta, Grebeg Syawal menjadi tradisi paling ikonik. Dalam prosesi ini, gunungan hasil bumi diarak dari keraton menuju masjid agung, kemudian diperebutkan oleh warga sebagai simbol berkah dan kemakmuran. Tradisi ini bukan sekadar atraksi, tetapi mengajarkan pentingnya gotong royong, rasa syukur, dan kepedulian sosial di tengah masyarakat.
Selain Grebeg dan Lebaran Ketupat, masyarakat Jawa juga merayakan Syawal dengan ritual lokal yang sarat makna. Di Cirebon, ziarah ke Astana Gunung Sembung menjadi momen penghormatan kepada leluhur sekaligus penguatan ikatan antarwarga. Sementara di Semarang, ritual Sesaji Rewanda memberi makan kera di Goa Kreo, disertai kegiatan bersih desa dan pertunjukan budaya. Di Banyuwangi, Suku Osing masih melestarikan Barong Ider Bumi, arak-arakan barong keliling desa yang dipercaya menolak bala dan menjaga keseimbangan hidup.
Di pesisir dan pedesaan, Syawal juga menampilkan kearifan lokal yang kaya. Di Pasuruan, perayaan hias perahu menjadi bentuk syukur masyarakat terhadap hasil laut, sementara di Madura dikenal tradisi Ter-ater, yaitu berbagi makanan dengan tetangga sebagai simbol kepedulian sosial.
Di Pekalongan dan Demak, Lebaran Ketupat berkembang menjadi pembuatan lopis raksasa dan Larung Sesaji yang menyatukan komunitas melalui kuliner dan seni.
Sepekan setelah Idulfitri, Lebaran Ketupat dirayakan sebagai puncak tradisi Syawal. Ketupat bukan hanya hidangan khas, tetapi simbol pengampunan, kebersamaan, dan harapan baru.
Di beberapa wilayah, tradisi ini dikombinasikan dengan festival kuliner dan pertunjukan seni, menjadikannya momen yang mempererat ikatan sosial sekaligus menegaskan nilai spiritual pasca-Ramadan. (*)
Sumber: Berbagai sumber