Ilustrasi susah tidur (FOTO: SHUTTERSTOCK)
JAKARTA - Tidur sering kali dianggap sebagai aktivitas pasif yang bisa dikorbankan demi mengejar target pekerjaan atau produktivitas harian.
Namun, setiap tanggal 13 Maret, dunia memperingati Hari Tidur Sedunia (World Sleep Day) untuk menegaskan bahwa istirahat berkualitas adalah pilar utama kesehatan yang tidak bisa ditawar.
Pencetus utama dari gerakan ini ialah sebuah komite kesehatan di bawah naungan World Sleep Society. Inisiatif tersebut pertama kali digagas oleh sekelompok profesional medis dan peneliti yang mendalami bidang somnologi atau ilmu tentang tidur.
Para ahli ini menyadari adanya urgensi untuk menciptakan kampanye tahunan karena melihat tren gangguan tidur di masyarakat dunia yang berdampak langsung pada beban kesehatan fisik serta stabilitas emosional.
Tujuan utama dari peringatan ini adalah untuk menurunkan angka masalah tidur di masyarakat melalui pencegahan dan manajemen gangguan tidur yang lebih baik.
Hari Tidur Sedunia berupaya meningkatkan kesadaran publik mengenai durasi tidur ideal bagi orang dewasa, yakni antara tujuh hingga sembilan jam setiap harinya guna menjaga sistem imun dan fungsi kognitif.
Selain itu, kampanye ini juga bertujuan menekan angka kecelakaan lalu lintas dan kerja yang sering kali dipicu oleh kelelahan atau fenomena micro-sleep akibat kurang tidur kronis.
Peringatan ini juga menjadi momentum bagi tenaga medis untuk mempromosikan sleep hygiene atau kebiasaan tidur yang sehat kepada masyarakat luas.
Hal ini mencakup edukasi mengenai pentingnya menjauhkan gawai sebelum tidur hingga menjaga suasana ruangan yang nyaman untuk mencapai tidur yang restoratif.