• News

Petani Binaan Airnav Indonesia Panen Perdana Melon Hidroponik

Aliyudin Sofyan | Selasa, 10/03/2026 17:27 WIB
Petani Binaan Airnav Indonesia Panen Perdana Melon Hidroponik

BOYOLALI – Para petani binaan AirNav Indonesia melalukan panen perdana melon hidroponik di Desa Guklowajen, Kecamatan Sawit, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Panen perdana melon hidroponik ini merupakan program Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL) perusahaan tersebut.

“Alhamdulillah, dari area seluas 250 meter persegi, melon seberat 1,5 ton yang dikembangbiakkan secara hidroponik berhasil dipanen pada Senin, 9 Maret 2026. Ini kabar yang sangat menggembirakan. Menjadi pertanda bahwa metode yang diterapkan para petani binaan kami bisa dikembangkan lebih jauh lagi, agar dapat memberikan hasil yang lebih besar,” kata Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko AirNav Indonesia Azizatun Azhimah, melalui keterangan resmi Selasa (10/3/2026).

Azizatun menambahkan, mengelola pertanian melalui sistem hidroponik menjadi solusi yang tepat bagi masyarakat untuk mengelola pertanian di tengah keterbatasan lahan untuk bercocok tanam, dengan tetap mendapatkan hasil yang optimal.

Menurutnya, program ini merupakan langkah awal atau pilot project dalam memperkenalkan pertanian yang lebih modern, terukur, dan bernilai ekonomi kepada masyarakat desa.

Program ini dikembangkan di atas lahan yang sangat terbatas, dengan modal awal sebanyak 740 bibit buah melon. Dari proses budidaya tersebut, sebanyak 650 buah berhasil dipanen dengan total berat sekitar 1,5 ton.

Hasil panen perdana tersebut, sebagian hasilnya dibagikan kepada masyarakat. Sementara sebagian lainnya dijual untuk mendukung pembelian bibit untuk menjaga keberlanjutan program  tersebut.

Melalui project tersebut, Azizatun menambahkan, perusahaan ingin menunjukkan bahwa sektor pertanian dapat dikelola secara lebih modern dan inovatif, sehingga mampu membuka peluang ekonomi baru sekaligus meningkatkan produktivitas desa.

Komoditas melon dipilih karena memiliki nilai ekonomi yang baik dan dinilai potensial untuk dikembangkan secara lokal. Menurut Azizatun, pendekatan teknologi dan pendampingan yang tepat dapat menjadikan komoditas bernilai tinggi lebih mudah diakses dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat sekitar.

Program ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kapasitas petani binaan, tetapi juga menghadirkan nilai ekonomi baru bagi desa serta memperluas akses masyarakat terhadap hasil pertanian yang berkualitas.

Pelaksanaan panen perdana ini juga terasa semakin bermakna karena berlangsung di bulan suci Ramadan, yang menjadi momentum untuk memperkuat nilai berbagi, kepedulian sosial, dan kebermanfaatan bagi sesama.