• Oase

Kisah Anak Angkat Rasulullah, Zaid bin Haritsah

M. Habib Saifullah | Selasa, 10/03/2026 21:05 WIB
Kisah Anak Angkat Rasulullah, Zaid bin Haritsah Ilustrasi - Zaid bin Haritsah, anak angkat Rasulullah.

JAKARTA - Dalam sejarah peradaban Islam, ribuan sahabat setia tercatat mendampingi perjuangan Rasulullah SAW dengan segala pengorbanannya.

Namun, dari sekian banyak sosok mulia tersebut, hanya ada satu nama sahabat yang secara eksplisit disebutkan oleh Allah SWT di dalam ayat suci Al-Qur`an, yakni Zaid bin Haritsah.

Sosok ini bukan sekadar pengikut, melainkan orang yang sangat dicintai Nabi hingga dijuluki sebagai Hibbu Rasulillah.

Perjalanan hidup Zaid bermula dari sebuah tragedi saat ia diculik oleh penyamun ketika masih kanak-kanak dan dijual sebagai budak di pasar Ukaz.

Ia kemudian dibeli oleh Hakim bin Hizam untuk diberikan kepada Siti Khadijah RA, yang setelah menikah dengan Nabi Muhammad SAW, menyerahkan Zaid sebagai pelayan pribadi baginya.

Keluhuran budi pekerti Nabi membuat Zaid merasa lebih dari sekadar pelayan, hingga akhirnya Nabi memerdekakannya dan mengangkatnya sebagai anak di hadapan masyarakat Quraisy.

Keistimewaan karakter Zaid teruji saat ayah kandungnya, Haritsah, berhasil menemukan keberadaannya dan datang ke Mekkah untuk menjemputnya pulang.

Rasulullah SAW memberikan pilihan bebas kepada Zaid untuk kembali pada keluarga kandungnya tanpa tebusan sepeser pun.

Namun, secara mengejutkan, Zaid justru memilih untuk tetap tinggal bersama Nabi Muhammad SAW karena ia mengaku telah melihat kemuliaan dan kasih sayang pada diri Nabi yang tidak ia temukan pada siapa pun, termasuk orang tuanya sendiri.

Puncak keistimewaan Zaid terjadi ketika namanya secara resmi dicantumkan oleh Allah SWT dalam Surah Al-Ahzab ayat 37.

Ayat ini turun berkaitan dengan ketetapan syariat mengenai penghapusan tradisi adopsi yang menyamakan nasab anak angkat dengan anak kandung.

Melalui penyebutan nama Zaid secara langsung, Allah SWT memberikan penghormatan abadi sekaligus penegasan hukum bagi umat Islam di masa depan.

Tak ada sahabat lain, bahkan Abu Bakar Ash-Shiddiq atau Umar bin Khattab sekalipun, yang namanya tertulis langsung di dalam mushaf.

Zaid bin Haritsah menutup lembaran hidupnya dengan sangat heroik sebagai panglima perang dalam pertempuran Mut`ah melawan pasukan Romawi pada tahun 8 Hijriah.

Ia bertempur dengan gagah berani memegang panji Islam hingga gugur sebagai syahid.