• Oase

Kisah Ali bin Abi Thalib dalam Peristiwa Kelam di Bulan Suci Ramadan

Vaza Diva | Selasa, 10/03/2026 20:15 WIB
Kisah Ali bin Abi Thalib dalam Peristiwa Kelam di Bulan Suci Ramadan Ilustrasi - Ali bin Abi Thalib dalam perang khaibar (Foto: Jernih.co)

JAKARTA - Dunia Islam senantiasa mengenang bulan Ramadan bukan hanya sebagai bulan keberkahan, tetapi juga sebagai saksi bisu peristiwa tragis yang menimpa salah satu pemimpin terbaik umat, Ali bin Abi Thalib RA.

Tepat pada bulan suci ini, Khalifah keempat sekaligus menantu Rasulullah SAW tersebut wafat sebagai syahid setelah menjadi korban pembunuhan terencana.

Berdasarkan catatan sejarah yang dikutip dari beberapa sumber, serangan terhadap Ali bin Abi Thalib terjadi pada pagi buta tanggal 19 Ramadan 40 Hijriah.

Pelakunya adalah Abdurrahman bin Muljam, seorang anggota kelompok Khawarij yang menyimpan dendam politik dan ideologis.

Bin Muljam bersama kelompoknya bersekongkol untuk membunuh para pemimpin Islam di berbagai wilayah, namun hanya serangannya terhadap Ali yang berhasil dieksekusi.

Saat Ali tengah mengimami atau menuju shalat Subuh di Masjid Kufah, Bin Muljam menerjang dan mengayunkan pedang beracun tepat ke dahi sang Khalifah.

Luka tersebut sangat dalam dan racun yang meresap ke tubuh Ali menjadi penyebab utama syahidnya beliau dua hari kemudian, yakni pada 21 Ramadan.

Ali bin Abi Thalib dikenal dengan gelar Asadullah (Singa Allah) karena keberaniannya di medan perang, namun di akhir hayatnya, beliau menunjukkan kualitas hati yang luar biasa.

Meski sedang terluka parah dan berhadapan dengan pembunuhnya, Ali tetap berpesan kepada putra-putranya, Hasan dan Husain, untuk memperlakukan Bin Muljam dengan manusiawi selama dalam tawanan.

Dalam detik-detik menjelang wafatnya, Ali senantiasa mengingatkan umatnya tentang pentingnya menjaga ibadah shalat dan memelihara hubungan baik antar sesama Muslim. Beliau wafat dengan lisan yang basah akan zikir dan nasihat ketakwaan.

Wafatnya Ali bin Abi Thalib sebagai syahid di masjid dalam keadaan menjalankan ibadah merupakan kedudukan yang sangat tinggi. Hal ini mengingatkan kita pada firman Allah SWT mengenai orang-orang yang mengorbankan diri demi rida-Nya:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ

"Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya." (QS. Al-Baqarah: 207).

Para ulama tafsir sering mengaitkan ayat ini dengan pengorbanan Ali bin Abi Thalib dalam berbagai kesempatan membela Islam.

Ali bin Abi Thalib meninggalkan warisan luar biasa berupa ilmu pengetahuan, kezuhudan, dan kefasihan dalam berbahasa. Beliau adalah pintu kota ilmu sebagaimana yang pernah disabdakan oleh Rasulullah SAW:

أَنَا مَدِينَةُ الْعِلْمِ وَعَلِيٌّ بَابُهَا

"Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya." (HR. At-Tirmidzi).

Hingga hari ini, peringatan syahidnya Ali bin Abi Thalib di bulan Ramadan menjadi momentum bagi umat Islam untuk merenungi kembali arti loyalitas, kesabaran, dan perjuangan dalam mempertahankan nilai-nilai keadilan.