Ilustrasi kisah Salman Al-Farisi (Foto: Alif)
JAKARTA - Perang Khandaq atau yang dikenal sebagai Perang Ahzab pada tahun 5 Hijriah mencatatkan sejarah besar dalam taktik militer Islam.
Menghadapi kepungan koalisi 10.000 pasukan kafir Quraisy dan sekutunya, umat Muslim di Madinah berhasil memenangkan pertempuran melalui keunggulan strategi pertahanan parit yang belum pernah dikenal sebelumnya di jazirah Arab.
Sosok sentral di balik ide jenius ini adalah Salman al-Farisi, seorang sahabat Nabi asal Persia.
Dalam musyawarah penentuan pertahanan kota, Salman mengusulkan taktik yang lazim digunakan di negeri asalnya saat menghadapi pengepungan musuh yang jumlahnya jauh lebih besar.
Ia menyarankan penggalian parit lebar di sekeliling wilayah yang rentan serangan guna menghambat pergerakan kavaleri lawan.
Rasulullah SAW menyetujui usulan tersebut sebagai langkah taktis melindungi Madinah. Strategi ini sekaligus menunjukkan keterbukaan Islam terhadap inovasi teknologi dan pemikiran militer dari luar selama bertujuan untuk kemaslahatan dan pertahanan kedaulatan.
Seluruh pasukan Muslim kemudian dikerahkan untuk menggali parit di sisi utara Madinah, wilayah yang paling terbuka bagi serangan musuh, sementara sisi lainnya terlindungi secara alami oleh bukit batu tajam dan perkebunan kurma yang rapat.
Efektivitas parit ini sangat luar biasa karena dimensinya dibuat cukup lebar sehingga tidak bisa dilompati oleh kuda perang manapun, serta cukup dalam untuk menjerat prajurit yang mencoba turun.
Pasukan koalisi yang terbiasa dengan pola perang terbuka di padang pasir terpaksa tertahan selama berminggu-minggu dalam cuaca dingin ekstrem dengan logistik yang kian menipis.
Kombinasi antara hambatan fisik parit, kecerdasan untuk memecah persatuan musuh dari dalam, serta bantuan badai pasir yang menghancurkan perkemahan lawan akhirnya memaksa pasukan koalisi mundur tanpa hasil.