• News

AS-Israel Berencana Sita Uranium Milik Iran

M. Habib Saifullah | Minggu, 08/03/2026 16:30 WIB
AS-Israel Berencana Sita Uranium Milik Iran Para ahli Iran memeriksa pabrik nuklir di kota Isfahan yang digunakan sebagai fasilitas konversi uranium (UCF) yang dirancang untuk mengubah bijih uranium menjadi uranium heksafluorida (FOTO: EPA)

JAKARTA - Amerika Serikat dan Israel dilaporkan membahas kemungkinan mengirim pasukan khusus ke Iran untuk menyita stok uranium yang diperkaya tinggi pada tahap selanjutnya dari konflik yang sedang berlangsung.

Menurut laporan portal Axios pada Minggu mengutip empat sumber yang mengetahui pembahasan tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya juga menyatakan bahwa pasukan AS dapat dikirim ke Iran di masa mendatang untuk mengamankan uranium yang diperkaya milik negara itu.

Laporan Axios, mengutip seorang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya, menyebutkan pemerintahan Trump telah membahas dua opsi utama terkait penanganan uranium tersebut.

Opsi pertama adalah memindahkan seluruh material uranium yang diperkaya keluar dari Iran. Sementara opsi kedua adalah mengirim para ahli senjata nuklir ke Iran untuk menurunkan tingkat pengayaan uranium tersebut langsung di lokasi.

Misi tersebut kemungkinan juga akan melibatkan para ilmuwan dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA), menurut laporan tersebut.

IAEA selama ini dikenal sebagai lembaga pengawas internasional yang memantau program nuklir berbagai negara untuk memastikan kepatuhan terhadap perjanjian nonproliferasi.

Axios melaporkan bahwa rencana operasi tersebut sebelumnya telah menjadi salah satu opsi yang dipresentasikan kepada Presiden Trump sebelum konflik berlangsung.

Laporan itu mengutip dua sumber yang menyatakan bahwa skenario pengiriman pasukan khusus itu telah dibahas dalam perencanaan awal kebijakan keamanan AS.

Para pejabat pertahanan Israel juga disebut telah mengikuti perkembangan diskusi tersebut.

Seorang pejabat pertahanan Israel mengatakan bahwa Trump dan para penasihatnya secara serius mempertimbangkan opsi pengerahan pasukan khusus untuk melaksanakan misi terbatas di wilayah Iran.

Sumber: Sputnik/RIA Novosti