Mendikdasmen Abdul Mu`ti dalam kegiatan Silaturahmi Mendikdasmen bersama media massa di Jakarta pada Sabtu 7 Maret 2026 (Foto: Habib/Katakini.com)
JAKARTA - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengedepankan pendekatan preventif dan promotif dalam Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) di sekolah.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu`ti, mengatakan bahwa pembentukan karakter siswa perlu dilakukan melalui interaksi sosia sehari-hari, sehingga tidak hanya lewat pembelajaran formal.
"Dalam kebijakan terbaru tersebut, penguatan karakter dibangun melalui empat pilar utama yang menjadi landasan pembinaan siswa di sekolah," kata Mendikdasmen dalam Silatuahmi dengan Media di Jakarta, Sabtu (7/3/2026).
Dalam penjelasannya, Mendikdasmen menguraikan empat pilar strategis yang menjadi fondasi pembinaan siswa.
Pilar pertama ialah memuliakan, sebuah konsep yang menempatkan setiap murid sebagai individu berharga tanpa memandang latar belakang sosialnya.
"Memuliakan bukan sekadar menghormati. Semua murid memiliki bakat dan kemampuan yang harus dihargai dan dikembangkan," ujarnya.
Pilar kedua mengedepankan pendekatan partisipatif. Melalui skema ini, tanggung jawab pembentukan karakter tidak lagi dibebankan secara tunggal kepada guru Bimbingan Konseling (BK), melainkan melibatkan seluruh tenaga pendidik di sekolah.
Strategi ini diwujudkan melalui program guru wali, di mana setiap guru berperan sebagai mentor bagi sekelompok siswa berdasarkan rasio tertentu.
"Dengan demikian, siswa memiliki lebih banyak figur pendamping di lingkungan sekolah," kata Mendikdasmen.
Selanjutnya, pilar ketiga berfokus pada pemanfaatan hidden curriculum yang diimplementasikan dengan menciptakan ekosistem sekolah untuk membentuk kepribadian positif siswa melalui kebiasaan harian.
Ia mencontohkan tindakan riil seperti menanamkan budaya antre, kedisiplinan membersihkan area makan secara mandiri, hingga kepedulian terhadap kebersihan lingkungan.
"Kebiasaan sederhana seperti antre, bertanggung jawab setelah makan, dan membuang sampah dengan benar sangat penting dalam pembentukan karakter," katanya.
Terakhir, pilar keempat ialah penguatan budaya beradab (civil culture) seperti seperti membiasakan ucapan terima kasih, sikap saling menghargai, hingga etika memberi jalan kepada sesama.