Ilustrasi - Peringatan hari perempuan internasional (FOTO: AP)
JAKARTA - Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day/IWD) diperingati setiap 8 Maret. Pada tahun 2026, peringatan global ini kembali menjadi momentum penting untuk menyoroti perjuangan kesetaraan gender sekaligus merayakan kontribusi perempuan di berbagai bidang kehidupan.
Tema Hari Perempuan Internasional yang diangkat tahun ini adalah “Give To Gain” atau Memberi untuk Mendapatkan. Tema tersebut menekankan pentingnya kolaborasi, kepedulian sosial, dan investasi bersama untuk mendorong terciptanya kesetaraan gender di seluruh dunia.
Dikutip dari International Women`s Day, sejarah Hari Perempuan Internasional berakar dari gerakan buruh dan perjuangan hak perempuan pada awal abad ke-20. Masa tersebut ditandai dengan perubahan besar dalam dunia industri, pertumbuhan populasi, serta munculnya berbagai ideologi sosial baru.
Pada tahun 1908, sekitar 15.000 perempuan turun ke jalan di New York City, Amerika Serikat. Mereka melakukan aksi demonstrasi menuntut jam kerja yang lebih pendek, upah yang lebih adil, serta hak untuk memilih dalam pemilu.
Setahun kemudian, pada 1909, Socialist Party of America menetapkan peringatan National Woman’s Day pertama di Amerika Serikat. Hari tersebut diperingati setiap akhir Februari hingga tahun 1913.
Momentum penting terjadi pada 1910 ketika Konferensi Perempuan Pekerja Internasional digelar di Copenhagen, Denmark. Dalam forum tersebut, aktivis Jerman Clara Zetkin mengusulkan ide agar dunia memiliki satu hari khusus untuk memperjuangkan hak-hak perempuan.
Masih menurut sumber yang sama, usulan tersebut disambut secara bulat oleh lebih dari 100 perempuan dari 17 negara yang hadir dalam konferensi itu. Mereka berasal dari berbagai organisasi buruh, partai politik, dan kelompok perempuan.
Setahun kemudian, pada 1911, peringatan Hari Perempuan Internasional pertama digelar di beberapa negara Eropa seperti Austria, Denmark, Germany, dan Switzerland. Lebih dari satu juta orang mengikuti berbagai aksi dan kampanye yang menuntut hak kerja, hak memilih, serta penghapusan diskriminasi terhadap perempuan.
Tanggal 8 Maret akhirnya ditetapkan sebagai Hari Perempuan Internasional setelah peristiwa penting pada 1917 di Russia.
Saat itu, perempuan Rusia menggelar aksi mogok dengan slogan “Bread and Peace” (Roti dan Perdamaian) sebagai protes terhadap kelaparan dan dampak World War I.
Aksi tersebut memicu gelombang protes besar yang akhirnya memaksa Tsar Rusia turun dari kekuasaan. Pemerintahan sementara kemudian memberikan hak pilih kepada perempuan, menjadikan peristiwa ini sebagai tonggak penting dalam sejarah gerakan perempuan dunia.
Tanggal dimulainya aksi tersebut, yang dalam kalender Gregorian jatuh pada 8 Maret, kemudian diadopsi secara luas sebagai Hari Perempuan Internasional.
Peringatan global ini semakin mendapat pengakuan internasional ketika United Nations mulai memperingati Hari Perempuan Internasional secara resmi pada 1975.
Dua tahun kemudian, Majelis Umum PBB menetapkan hari ini sebagai Hari PBB untuk Hak-Hak Perempuan dan Perdamaian Dunia. Sejak saat itu, setiap tahun PBB mengangkat tema khusus yang menyoroti berbagai isu perempuan, mulai dari hak asasi manusia hingga pemberdayaan ekonomi.
Saat ini, Hari Perempuan Internasional diperingati di berbagai negara melalui berbagai kegiatan, mulai dari aksi sosial, diskusi publik, konferensi bisnis, hingga kampanye kesetaraan gender.
Di sejumlah negara, hari ini bahkan menjadi hari libur nasional, dan sering dirayakan dengan pemberian bunga atau hadiah sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan.
Meski berbagai kemajuan telah dicapai—seperti semakin banyak perempuan yang menjadi pemimpin, ilmuwan, hingga astronaut—tantangan kesetaraan gender masih tetap ada. Di banyak negara, perempuan masih menghadapi kesenjangan upah, keterbatasan akses pendidikan, serta kekerasan berbasis gender.
Peringatan Hari Perempuan Internasional bukan hanya tentang merayakan pencapaian perempuan, tetapi juga mengingatkan dunia bahwa perjuangan menuju kesetaraan masih terus berlangsung.
Tema “Give To Gain” pada 2026 mengajak masyarakat global untuk berkontribusi melalui kolaborasi, dukungan sosial, dan kebijakan yang lebih inklusif.
Dengan semangat tersebut, Hari Perempuan Internasional diharapkan tidak sekadar menjadi peringatan tahunan, tetapi juga momentum untuk memastikan masa depan perempuan dan anak perempuan di seluruh dunia menjadi lebih adil, aman, dan setara. (*)