Rudal Iran menghantam Tel Aviv, Israel (Foto: AP)
DUBAI - Situasi Timur Tengah saat ini kian kusut pasca terbunuhnya Pemimpin Spiritual Iran, Ayatullah Ali Khamenei pada Sabtu (28/2) kemarin, dalam serangan perdana koalisi Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Pasca tragedi itu, Iran menembakkan rudal ke target-target di Israel dan negara-negara Arab Teluk pada Minggu (1/3), setelah bersumpah melakukan pembalasan besar-besaran.
Iran mengakui kematian Khamenei yang berusia 86 tahun dalam serangan udara AS-Israel di kantornya di Teheran. Peristiwa itu mengguncang masa depan Republik Islam dan meningkatkan risiko ketidakstabilan kawasan.
"Ini adalah kesempatan terbesar bagi rakyat Iran untuk merebut kembali negara mereka," kata Trump dikutip dari Associated Press.
Kabinet Iran menyatakan bahwa “kejahatan besar ini tidak akan pernah dibiarkan tanpa balasan”, dan Garda Revolusi paramiliter mengancam akan meluncurkan “operasi ofensif paling intens yang pernah ada”, dengan menargetkan pangkalan Israel dan Amerika.
“Anda telah melewati garis merah kami dan harus membayar harganya,” kata Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf dalam pidato yang disiarkan televisi.
“Kami akan memberikan pukulan yang begitu menghancurkan sehingga Anda sendiri akan dipaksa untuk memohon,” dia menambahkan.
Sementara itu, Trump kembali membalas ancaman Iran dengan ancaman yang lebih besar. "MEREKA SEBAIKNYA TIDAK MELAKUKANNYA, KARENA JIKA MEREKA MELAKUKANNYA, KAMI AKAN MENGHANTAM MEREKA DENGAN KEKUATAN YANG BELUM PERNAH TERLIHAT SEBELUMNYA!" tulis Trump di X.
Setelah serangan awal, Iran segera meluncurkan rudal dan drone ke arah Israel serta instalasi militer AS di Bahrain, Kuwait, dan Qatar. Militer Israel mengatakan Iran menembakkan puluhan rudal ke wilayahnya, dengan banyak di antaranya berhasil dicegat.
Layanan penyelamat Magen David Adom menyatakan pada Sabtu malam bahwa seorang perempuan di wilayah Tel Aviv meninggal dunia setelah terluka akibat serangan rudal Iran.
Penerbangan di seluruh Timur Tengah terganggu, dan tembakan sistem pertahanan udara terdengar di atas Dubai, ibu kota komersial Uni Emirat Arab, dengan ledakan berlanjut hingga Minggu pagi.
Media pemerintah melaporkan serpihan dari serangan rudal Iran ke ibu kota UEA menewaskan satu orang, dan puing-puing dari pencegatan udara memicu kebakaran di pelabuhan utama kota serta merusak fasad hotel ikonik Burj Al Arab.
Arab Saudi menyatakan Iran menargetkan ibu kotanya dan wilayah timur dalam serangan yang berhasil digagalkan, sementara Yordania mengatakan pihaknya menangani 49 drone dan rudal balistik.
Serangan tersebut berpotensi mengguncang pasar global, terutama jika Iran membuat Selat Hormuz tidak aman bagi lalu lintas komersial. Sepertiga ekspor minyak dunia yang diangkut melalui laut melewati selat tersebut pada 2025.