• Oase

Mengenal Bilal bin Rabah, Sosok Penyeru Azan Pertama

M. Habib Saifullah | Minggu, 01/03/2026 14:05 WIB
Mengenal Bilal bin Rabah, Sosok Penyeru Azan Pertama Ilustrasi Bilal bin Rabah mengumandangkan azan saat peritiwa Fathu Makkah.

JAKARTA - Dalam sejarah perkembangan Islam, Bilal bin Rabah dikenal sebagai salah satu sahabat paling awal yang memeluk agama tauhid. Pria keturunan Abisinia (Ethiopia) ini lahir di Mekkah sekitar 43 tahun sebelum peristiwa Hijriah.

Ia merupakan putra dari Rabah, seorang budak, dan Hamamah, seorang wanita keturunan Abisinia (Ethiopia) yang juga berstatus budak di bawah kekuasaan kaum Quraisy.

Secara silsilah, Bilal tumbuh dalam lingkungan perbudakan milik keluarga Bani Jumah. Sejak kecil, ia dikenal sebagai pemuda yang memiliki fisik kuat, warna kulit gelap yang khas, serta karakter yang jujur dan pendiam di bawah tuannya, Umayyah bin Khalaf.

Kehidupan Bilal berubah drastis setelah ia menyatakan keimanannya di tengah tekanan sosial yang sangat tinggi saat itu. Keputusannya memeluk Islam memicu kemarahan majikannya, yang kemudian menyiksa Bilal dengan menjemurnya di bawah terik matahari sambil menindih dadanya menggunakan batu besar.

Meskipun mendapat tekanan fisik yang hebat, Bilal tetap konsisten mempertahankan keyakinannya dengan terus mengucap kata "Ahad, Ahad" (Allah Maha Esa). Keteguhan ini menarik perhatian Abu Bakar Ash-Shiddiq, yang kemudian menebus dan memerdekakan Bilal dari status budak untuk menjadi orang merdeka.

Setelah merdeka, Bilal menjadi sahabat setia yang selalu mendampingi Rasulullah dalam berbagai kesempatan, termasuk saat hijrah ke Madinah. Sisi kehidupannya yang paling menonjol adalah suaranya yang lantang dan merdu, sehingga Rasulullah menunjuknya sebagai muazin pertama untuk memanggil umat shalat.

Salah satu momen bersejarah dalam hidupnya adalah saat peristiwa Fathul Mekkah (Pembebasan Mekkah). Atas perintah Nabi, Bilal naik ke atas Ka`bah untuk mengumandangkan azan, sebuah simbol kemenangan sekaligus penegasan bahwa Islam tidak memandang kasta atau warna kulit dalam derajat kemanusiaan.

Setelah wafatnya Rasulullah, Bilal merasa sangat kehilangan hingga ia tidak sanggup lagi mengumandangkan azan di Madinah karena kesedihan yang mendalam. Ia kemudian memutuskan pindah ke wilayah Syam (Suriah) untuk ikut berjuang membela kedaulatan Islam hingga wafat dan dimakamkan di Damaskus.