• Gaya Hidup

Mengapa Orang Tunarungu Belum Tentu Tidak Bisa Bicara?

M. Habib Saifullah | Sabtu, 28/02/2026 11:30 WIB
Mengapa Orang Tunarungu Belum Tentu Tidak Bisa Bicara? Ilustrasi berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat. (FOTO: SHUTTERSTOCK)

JAKARTA - Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat sering menyebut seseorang yang tidak dapat berbicara sebagai “tuli bisu”. Istilah ini sebenarnya kurang tepat karena tunarungu dan tunawicara merupakan dua kondisi yang berbeda.

Keduanya memang sama-sama berkaitan dengan komunikasi, tetapi penyebab dan dampaknya tidak sama. Tunarungu adalah kondisi ketika seseorang mengalami gangguan pada indra pendengaran, baik sebagian maupun seluruhnya.

Gangguan ini dapat terjadi sejak lahir atau muncul kemudian akibat penyakit, infeksi, faktor usia, maupun cedera. Ketika kemampuan mendengar berkurang, seseorang kesulitan menangkap suara, termasuk percakapan.

Dampaknya, proses belajar bahasa lisan menjadi terhambat, terutama pada anak-anak yang belum pernah mendengar suara sebelumnya.

Karena kemampuan berbicara sangat bergantung pada kemampuan mendengar, banyak orang tunarungu mengalami kesulitan bicara. Namun hal ini bukan berarti semua tunarungu tidak bisa berbicara.

Sebagian orang dengan gangguan pendengaran masih mampu berbicara dengan jelas, terutama jika mendapatkan terapi wicara, menggunakan alat bantu dengar, atau implan koklea sejak dini.

Berbeda dengan itu, tunawicara adalah kondisi ketika seseorang mengalami gangguan pada kemampuan berbicara. Masalahnya bukan pada telinga, melainkan pada organ bicara atau sistem saraf yang mengatur produksi suara.

Penyebabnya bisa beragam, seperti kelainan pita suara, gangguan saraf, cerebral palsy, autisme, atau cedera pada area otak yang mengatur bahasa.

Seorang tunawicara dapat memiliki pendengaran normal. Ia mampu memahami pembicaraan orang lain, tetapi mengalami kesulitan mengeluarkan kata-kata atau suara.

Karena itu, banyak tunawicara berkomunikasi melalui tulisan, gerakan tubuh, atau alat bantu komunikasi.

Perbedaan mendasar antara keduanya terletak pada sumber gangguan. Tunarungu berawal dari masalah pendengaran, sedangkan tunawicara berasal dari gangguan produksi bicara.

Keduanya bisa terjadi bersamaan, tetapi tidak selalu. Banyak individu tunarungu yang dapat berbicara, dan ada pula tunawicara yang dapat mendengar dengan baik.