• Gaya Hidup

Mengenal Anosmia, Saat Hidung Tak Lagi Bisa Mencium Bau

M. Habib Saifullah | Sabtu, 28/02/2026 09:30 WIB
Mengenal Anosmia, Saat Hidung Tak Lagi Bisa Mencium Bau Ilustrasi gejala anosmia (Foto:Unsplash/Minh Ngọc)

JAKARTA - Bagi sebagian orang, aroma kopi di pagi hari atau wangi makanan hangat merupakan bagian kecil dari rutinitas harian. Namun bagi penderita anosmia, semua itu bisa hilang begitu saja.

Anosmia adalah kondisi ketika seseorang kehilangan kemampuan mencium bau, baik sementara maupun permanen. Indra penciuman bekerja melalui saraf olfaktori yang berada di bagian atas rongga hidung.

Saat partikel bau masuk ke hidung, reseptor akan mengirim sinyal ke otak untuk diartikan sebagai aroma tertentu. Ketika jalur ini terganggu, otak tidak lagi menerima informasi bau, sehingga seseorang tidak mampu mengenali aroma apa pun.

Kondisi ini dapat muncul secara tiba-tiba maupun bertahap. Banyak orang pertama kali menyadarinya ketika makanan terasa hambar. Hal tersebut terjadi karena sebagian besar sensasi rasa sebenarnya dipengaruhi oleh penciuman. Tanpa penciuman, lidah hanya mampu merasakan rasa dasar seperti manis, asin, asam, dan pahit.

Penyebab anosmia cukup beragam. Infeksi saluran pernapasan seperti flu, pilek, dan sinusitis merupakan penyebab paling umum. Peradangan membuat saluran hidung membengkak sehingga sinyal bau tidak dapat mencapai saraf penciuman.

Pada beberapa kasus, alergi dan polip hidung juga dapat menghalangi jalur udara menuju reseptor penciuman.

Anosmia juga dapat terjadi akibat infeksi virus tertentu, termasuk yang menyerang sistem pernapasan. Selain itu, cedera kepala dapat merusak saraf olfaktori, sementara penyakit saraf seperti Parkinson atau Alzheimer dapat memengaruhi pusat penciuman di otak. Faktor usia turut berperan karena kemampuan penciuman memang menurun seiring penuaan.

Meski tampak ringan, dampaknya cukup besar. Kehilangan penciuman membuat seseorang sulit mendeteksi bau asap, gas bocor, atau makanan basi.

Penderita juga kerap mengalami penurunan nafsu makan, perubahan berat badan, hingga gangguan suasana hati karena aktivitas sehari-hari terasa berbeda.

Penanganan anosmia bergantung pada penyebabnya. Jika dipicu infeksi ringan atau alergi, kemampuan mencium bau biasanya kembali setelah peradangan mereda. Dokter dapat memberikan obat semprot hidung atau antiinflamasi untuk membantu membuka saluran napas dan mengurangi pembengkakan.

Salah satu metode yang sering dianjurkan adalah terapi penciuman. Terapi ini dilakukan dengan melatih kembali saraf penciuman melalui paparan aroma tertentu secara rutin, seperti minyak esensial beraroma mawar, lemon, kayu putih, atau cengkeh.

Latihan dilakukan setiap hari selama beberapa minggu atau bulan untuk merangsang pemulihan fungsi saraf.

Penderita juga disarankan menjaga kebersihan hidung dan menghindari iritasi berulang, seperti asap rokok atau polusi berat. Mengonsumsi makanan bergizi, cukup istirahat, dan menjaga hidrasi membantu proses pemulihan karena jaringan saraf membutuhkan kondisi tubuh yang baik untuk regenerasi.

Jika anosmia disebabkan oleh sumbatan fisik seperti polip hidung, tindakan medis atau operasi mungkin diperlukan. Sementara pada kasus kerusakan saraf, pemulihan dapat berlangsung lebih lama dan membutuhkan pemantauan dokter.