• Gaya Hidup

Bukan Sekadar Tambahan Satu Hari, Ini Asal-usul Tahun Kabisat

M. Habib Saifullah | Sabtu, 28/02/2026 08:30 WIB
Bukan Sekadar Tambahan Satu Hari, Ini Asal-usul Tahun Kabisat Ilustrasi kaender Februari 2026 (Foto: Unsplash/Planet Volumes)

JAKARTA - Dalam kalender masehi, hampir semua bulan memiliki jumlah hari tetap. Namun ada satu pengecualian, yaitu Februari yang sesekali berjumlah 29 hari. Tahun ketika Februari memiliki 29 hari disebut tahun kabisat.

Tahun kabisat dibuat untuk menyesuaikan perhitungan kalender dengan gerak alam. Secara ilmiah, Bumi tidak mengelilingi Matahari tepat 365 hari, melainkan sekitar 365 hari 5 jam 48 menit 46 detik. Selisih hampir enam jam setiap tahun itu akan terus bertambah jika tidak diperbaiki.

Jika tidak ada koreksi, kalender akan bergeser dari musim sebenarnya. Dalam beberapa abad, musim hujan, kemarau, atau dingin bisa terjadi pada bulan yang berbeda dari seharusnya. Untuk mencegahnya, manusia menambahkan satu hari ekstra setiap beberapa tahun.

Dihimpun dari berbagai sumber, konsep tahun kabisat berasal dari kalender Romawi kuno. Pada awalnya, bangsa Romawi menggunakan kalender yang tidak akurat sehingga musim sering tidak sesuai dengan tanggal.

Pada tahun 45 sebelum Masehi, Julius Caesar memperkenalkan kalender Julian. Ia menetapkan satu tahun terdiri dari 365 hari dan menambahkan satu hari setiap empat tahun. Hari tambahan itu ditempatkan pada bulan Februari.

Namun setelah berabad-abad digunakan, sistem tersebut masih menghasilkan selisih kecil. Karena itu pada abad ke-16, Paus Gregorius XIII memperkenalkan kalender Gregorian yang dipakai hingga sekarang. Sistem ini memperbaiki aturan kabisat agar lebih sesuai dengan peredaran Bumi.

Aturannya adalah:

- Tahun yang habis dibagi 4 adalah tahun kabisat

- Tahun kelipatan 100 bukan tahun kabisat

- Kecuali jika juga habis dibagi 400

Berikut beberapa tahun kabisat yang akan terjadi:

2028
2032
2036
2040
2044
2048
2052
2056
2060

Jadi tahun kabisat berikutnya jatuh pada 2028.