• Gaya Hidup

Alasan Februari Paling Pendek dalam Kalender, Ternyata Ada Faktor Astronomi

M. Habib Saifullah | Sabtu, 28/02/2026 06:30 WIB
Alasan Februari Paling Pendek dalam Kalender, Ternyata Ada Faktor Astronomi Ilustrasi bulan Februari (Foto: Unsplash/Emiliana Hall)

JAKARTA - Setiap tahun, Februari selalu terasa lebih singkat dibanding bulan lainnya. Hanya 28 hari, bahkan 29 hari saat tahun kabisat. Banyak orang mengira hal ini sekadar kebetulan, padahal penyebabnya berasal dari gabungan sejarah penanggalan kuno dan perhitungan astronomi.

Dihimpun dari berbagai sumber, awalnya bangsa Romawi kuno belum mengenal kalender seperti sekarang. Kalender pertama mereka hanya memiliki 10 bulan dan dimulai pada bulan Maret. Musim dingin tidak dihitung sebagai bagian dari kalender karena dianggap masa tanpa aktivitas pertanian.

Beberapa waktu kemudian, Raja Romawi Numa Pompilius melakukan perubahan besar sekitar abad ke-7 sebelum Masehi. Ia menambahkan dua bulan baru di awal tahun, yaitu Januari dan Februari, sehingga jumlah bulan menjadi 12.

Orang Romawi saat itu percaya angka genap membawa kesialan, sedangkan angka ganjil dianggap membawa keberuntungan. Karena itu sebagian besar bulan dibuat berjumlah 29 atau 31 hari.

Namun total hari dalam setahun harus menyesuaikan siklus bulan, sehingga ada satu bulan yang tersisa dengan jumlah hari lebih pendek. Bulan itu adalah Februari.

Februari juga memiliki fungsi khusus. Pada masa Romawi kuno, bulan ini digunakan untuk ritual penyucian menjelang tahun baru yang saat itu jatuh pada bulan Maret. Nama Februari sendiri berasal dari kata Latin februa, yang berarti pembersihan atau pemurnian.

Perubahan berikutnya terjadi pada masa Julius Caesar pada tahun 45 SM ketika kalender Julian diperkenalkan. Ia menyesuaikan kalender dengan peredaran Matahari sehingga jumlah hari dalam setahun menjadi 365 hari, serta menambahkan satu hari setiap empat tahun, yang kini dikenal sebagai tahun kabisat.

Secara ilmiah, Bumi membutuhkan waktu sekitar 365 hari 5 jam 48 menit 46 detik untuk satu kali mengelilingi Matahari. Artinya satu tahun tidak tepat 365 hari, tetapi sedikit lebih lama sekitar seperempat hari.

Jika kalender hanya menggunakan 365 hari setiap tahun, maka selisih sekitar enam jam itu akan terus menumpuk. Dalam empat tahun, selisihnya menjadi hampir satu hari penuh.

Tanpa koreksi, musim akan bergeser — misalnya musim hujan atau musim dingin bisa terjadi pada bulan yang berbeda setiap beberapa dekade.

Untuk mencegah pergeseran musim, ditambahkan satu hari setiap empat tahun. Hari tambahan ini ditempatkan pada bulan Februari, sehingga pada tahun kabisat Februari memiliki 29 hari.

Februari dipilih karena sejak awal memang menjadi bulan “penyesuaian” dalam kalender Romawi. Jadi bukan bulan lain yang dipotong, melainkan Februari yang digunakan sebagai tempat koreksi astronomi.

Ketika kalender Gregorian diperkenalkan pada abad ke-16 untuk memperbaiki akurasi kalender Julian, sistem ini disempurnakan. Tahun kabisat tidak berlaku pada tahun kelipatan 100, kecuali kelipatan 400. Aturan ini membuat kalender lebih sesuai dengan peredaran Bumi sebenarnya.

Dengan demikian, Februari hanya memiliki 28 hari bukan semata keputusan sejarah, tetapi juga hasil kebutuhan ilmiah agar kalender manusia tetap selaras dengan pergerakan Bumi dan pergantian musim.