• Oase

Fatimah al-Fihri, Perempuan Muslim Pendiri Universitas Tertua di Dunia

M. Habib Saifullah | Jum'at, 27/02/2026 16:05 WIB
Fatimah al-Fihri, Perempuan Muslim Pendiri Universitas Tertua di Dunia Universitas Al-Qarawiyyin, institusi yang didirikan oleh Fatimah al-Fihri (Foto: Wikipedia)

JAKARTA - Sejarah peradaban Islam tidak hanya dibangun oleh para penguasa dan ilmuwan laki-laki. Di dalamnya terdapat pula sosok perempuan yang memberi pengaruh besar, salah satunya adalah Fatimah al-Fihri.

Fatimah al-Fihri merupakan seorang tokoh perempuan Muslim abad ke-9 yang dikenal sebagai pendiri lembaga pendidikan Al-Qarawiyyin di Fez, Maroko.

Ia sering disebut sebagai perempuan pelopor pendidikan tinggi karena institusi yang ia dirikan kemudian berkembang menjadi universitas tertua di dunia yang masih beroperasi.

Nama lengkapnya Fatimah binti Muhammad al-Fihri al-Qurasyiyyah. Julukan al-Fihri berasal dari kabilah Fihr, salah satu cabang suku Quraisy. Ia lahir sekitar awal abad ke-9 M (sekitar tahun 800-810 M) di kota Kairouan, wilayah Ifriqiyah (sekarang Tunisia). Kairouan saat itu merupakan salah satu pusat peradaban Islam di Afrika Utara.

Ayahnya, Muhammad al-Fihri, adalah seorang saudagar kaya yang dikenal saleh dan mencintai ilmu. Ia mendidik anak-anaknya dengan kuat dalam tradisi keagamaan.

Fatimah tumbuh dalam lingkungan keluarga yang menekankan pendidikan, ibadah, dan kepedulian sosial. Ia mempelajari Al-Qur’an, fikih, bahasa Arab, serta ilmu-ilmu dasar keagamaan yang pada masa itu menjadi fondasi pendidikan.

Pada masa mudanya, keluarga al-Fihri bermigrasi ke kota Fez (Fes), Maroko. Kota tersebut sedang berkembang menjadi pusat perdagangan sekaligus pusat keilmuan karena banyak ulama dan pendatang menetap di sana.

Lingkungan ini sangat memengaruhi kepribadian Fatimah. Ia dikenal sebagai perempuan yang tekun beribadah, sederhana, dan mencintai ilmu.

Peristiwa penting terjadi ketika ayahnya wafat, kemudian disusul oleh suaminya tidak lama kemudian. Fatimah dan saudara perempuannya, Maryam, mewarisi kekayaan keluarga dalam jumlah besar. Alih-alih menggunakan harta itu untuk kehidupan pribadi, Fatimah memilih menyalurkannya untuk kepentingan masyarakat.

Ia memutuskan membangun sebuah masjid besar yang juga dirancang sebagai tempat belajar. Pembangunan dimulai sekitar tahun 857 M dan selesai pada 859 M. Bangunan itu dinamai Masjid al-Qarawiyyin, merujuk pada komunitas pendatang dari Kairouan yang tinggal di Fez.

Fatimah mengawasi langsung proses pembangunan dan dalam beberapa riwayat disebutkan ia berpuasa selama masa pembangunan sebagai bentuk pengabdian spiritual.

Masjid tersebut kemudian berkembang menjadi pusat pendidikan. Tidak hanya mengajarkan Al-Qur’an dan ilmu agama, tetapi juga matematika, astronomi, kedokteran, logika, dan bahasa.

Para pelajar datang dari berbagai wilayah Afrika Utara, Andalusia (Spanyol Islam), hingga Eropa. Dari sinilah lahir institusi pendidikan yang kelak dikenal sebagai Universitas al-Qarawiyyin.

Meski menjadi pendiri lembaga besar, Fatimah al-Fihri menjalani hidup yang sangat sederhana. Ia tidak mengambil keuntungan materi dari lembaga tersebut dan tetap hidup bersahaja.

Ia lebih dikenal sebagai ahli ibadah dan dermawan daripada tokoh sosial. Baginya, pendidikan adalah amal jariyah yang manfaatnya terus mengalir.

Fatimah al-Fihri wafat di kota Fez sekitar pertengahan abad ke-9 Masehi (diperkirakan sekitar tahun 880 M). Ia dimakamkan di kota yang sama, tempat ia mengabdikan sebagian besar hidupnya.