Eks Presiden Iran Hassan Rouhani berbicara pada KTT Kuala Lumpur (Foto: Reuters)
TEHERAN - Otoritas Iran membantah narasi yang menyebutkan bahwa mantan Presiden Iran, Hassan Rouhani mencoba merebut kekuasaan di tengah puncak protes nasional pada bulan lalu.
Merespons hal tersebut, Kantor Rouhani mengecam laporan yang menyatakan bahwa ia sedang memposisikan diri untuk menggantikan Khamenei dan menyebutnya sebagai "Kelanjutan dari operasi psikologi sumber-sumber Amerika dan Israel".
Mantan presiden itu mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa laporan-laporan tersebut bertujuan untuk menciptakan "keraguan dan kekhawatiran di kalangan opini publik di Iran untuk menyelesaikan tekanan maksimum mereka (AS dam Israel) melalui sanksi ekonomi dan ancaman militer."
Selain itu, Kedutaan Besar (Kedubes) Iran di Paris pada hari Rabu mengatakan bahwa laporan yang diterbitkan media Prancis itu kemungkinan besar didasarkan pada informasi palsu dan laporan spekulatif yang diberikan kepada penulis.
"Artikel ini adalah contoh nyata dari kampanye terorganisir untuk memproduksi dan menyebarkan informasi palsu dan rekayasa yang bertujuan merusak citra Iran. Artikel ini tidak memiliki nilai atau kredibilitas nyata," demikian pernyataan yang dirilis oleh media pemerintah.
Kedubes Iran juga menolak danya kaitan antara penangkapan para pemimpin reformis terkemuka awal bulan ini dengan dugaan skema perebutan kekuasaan yang dinetralisir.
Penangkapan tersebut "semata-mata terkait dengan pernyataan publik dan penerbitan deklarasi yang dibuat selama kerusuhan" pada bulan Januari, menurut kedutaan.
Sebagian dari para reformis tersebut telah dibebaskan setelah membayar uang jaminan yang cukup besar, tetapi beberapa lainnya tetap dipenjara karena mereka memiliki catatan hukuman penjara politik sebelumnya yang masih menggantung di kasus mereka di tangan otoritas kehakiman dan intelijen.