• Gaya Hidup

Bagaimana Pola Suhu Laut Bisa Lindungi Dunia dari Ancaman Kekeringan Global

Agus Mughni Muttaqin | Rabu, 25/02/2026 23:05 WIB
Bagaimana Pola Suhu Laut Bisa Lindungi Dunia dari Ancaman Kekeringan Global Ilustrasi kekeringan ekstrem (foto:ilustrasi kekeringan)

JAKARTA - Bayangkan jika ladang gandum di Amerika Utara, sawah di Asia, dan jagung di Amerika Selatan mengalami kekeringan pada saat yang sama. Skenario kekeringan global serempak itu selama ini menjadi kekhawatiran besar di tengah pemanasan global yang meningkatkan suhu dan mengacaukan pola hujan.

Namun penelitian terbaru menunjukkan bahwa meski risiko kekeringan meningkat, Bumi kecil kemungkinan mengering secara bersamaan dalam skala global. Pola suhu permukaan laut justru bertindak sebagai “pengganggu alami” yang mencegah kekeringan terjadi serempak di banyak benua sekaligus.

Studi yang dilakukan tim dari Indian Institute of Technology Gandhinagar menganalisis data iklim periode 1901 hingga 2020 untuk memahami bagaimana kekeringan menyebar secara global. Hasilnya menunjukkan bahwa kekeringan yang terjadi secara sinkron biasanya hanya memengaruhi sekitar 1,8 hingga 6,5 persen daratan dunia pada satu waktu tertentu, jauh lebih rendah dari perkiraan sebelumnya yang menyebut bisa mencapai seperenam daratan Bumi.

Dikutip dari Earth, alih-alih terkunci dalam satu fase kering raksasa, sistem iklim global lebih menyerupai mosaik yang terus berubah. Peneliti memperlakukan awal kekeringan sebagai peristiwa dalam jaringan global; jika dua wilayah yang berjauhan memasuki fase kering dalam rentang waktu berdekatan, keduanya dianggap tersinkronisasi.

Dengan memetakan ribuan koneksi tersebut, tim menemukan bahwa pola suhu laut membantu memecah keselarasan kekeringan sebelum menyebar merata antar-benua. Beberapa wilayah bahkan muncul sebagai “pusat kekeringan” global yang kerap terhubung dengan peristiwa kering di kawasan lain.

Hotspot tersebut teridentifikasi di Australia, Amerika Selatan, Afrika bagian selatan, dan sebagian Amerika Utara. Identifikasi dini wilayah pusat ini dinilai penting karena dapat menjadi sinyal awal potensi tekanan pada produksi pangan dan pasar global, meski tidak berkembang menjadi mega-kekeringan dunia.

Penelitian ini juga menelaah dampak kekeringan moderat terhadap hasil panen gandum, padi, jagung, dan kedelai. Temuannya menunjukkan bahwa bahkan kekeringan tingkat sedang dapat meningkatkan risiko gagal panen di atas 25 persen, dan di beberapa wilayah mencapai 40 hingga 50 persen untuk komoditas seperti jagung dan kedelai.

Artinya, dunia tidak perlu menunggu kekeringan ekstrem untuk merasakan guncangan pada harga dan rantai pasok pangan. Meski demikian, sistem iklim memiliki semacam “rem alami” yang biasanya mencegah kekeringan meluas secara seragam di seluruh benua.

Rem tersebut berasal dari pola suhu permukaan laut, terutama di Samudra Pasifik, tetapi juga di cekungan samudra lain. Variasi suhu ini memengaruhi distribusi curah hujan secara tidak merata, sehingga saat satu kawasan mengering, kawasan lain bisa tetap basah atau mengalami pola berbeda.

Salah satu penggerak utama adalah fenomena El Niño–Southern Oscillation yang mengubah pola cuaca global melalui siklus pemanasan dan pendinginan di Pasifik. Pada tahun-tahun El Niño, Australia cenderung menjadi pusat kekeringan, sementara pada fase La Niña pola kekeringan bergeser dan menyebar dengan konfigurasi berbeda.

Penelitian ini juga menemukan bahwa sekitar dua pertiga perubahan jangka panjang dalam tingkat keparahan kekeringan dijelaskan oleh perubahan curah hujan. Sepertiga sisanya berasal dari peningkatan kebutuhan evaporatif akibat suhu yang lebih tinggi, ketika udara yang lebih panas menyedot lebih banyak kelembapan dari tanah dan tanaman.

Curah hujan tetap menjadi faktor dominan secara global, terutama di Australia dan Amerika Selatan, tetapi pengaruh suhu terus menguat di banyak wilayah lintang menengah seperti Eropa dan Asia. Dengan kata lain, pemanasan global tidak serta-merta menyatukan kekeringan secara serempak, namun memperparah tekanan di wilayah yang sudah rentan.

Studi yang dipublikasikan di jurnal Communications Earth & Environment ini juga menyoroti pentingnya pendekatan berbasis jaringan untuk sistem peringatan dini. Dengan memantau wilayah pusat kekeringan, pemerintah dan pelaku pasar dapat mengantisipasi gangguan pasokan sebelum lonjakan harga meluas secara internasional. 

Para peneliti menegaskan bahwa temuan ini bukan berarti kekeringan menjadi kurang berbahaya. Sebaliknya, dunia perlu memanfaatkan fakta bahwa kekeringan jarang terjadi serempak untuk memperkuat perdagangan internasional, cadangan pangan, dan kebijakan yang fleksibel guna menstabilkan pasokan global.

Di tengah realitas pemanasan yang terus berlangsung, lautan ternyata masih memberikan perlindungan tidak langsung dari skenario terburuk mega-kekeringan global. Namun perlindungan itu bukan jaminan permanen, dan kemampuan manusia mengelola risiko tetap menjadi kunci menjaga ketahanan pangan dunia. (*)

Sumber: Earth