Ilustrasi - Sultan Muhammad Al-Fatih atau Sultan Mehmed II saat menaklukkan Konstantinopel (Foto: Kashmir Reader)
JAKARTA - Sultan Muhammad Al-Fatih atau Sultan Mehmed II tercatat sebagai salah satu penguasa paling berpengaruh dalam sejarah dunia. Penaklukannya atas Konstantinopel pada 29 Mei 1453 mengakhiri riwayat panjang Kekaisaran Bizantium dan mengukuhkan Kekaisaran Utsmaniyah sebagai kekuatan besar baru di kawasan Eurasia.
Dikutip dari berbagai sumber, Sultan Mehmed II lahir pada 30 Maret 1432 di Edirne, ibu kota Utsmaniyah saat itu, sebagai putra Sultan Murad II dan Hüma Hatun. Sejak kecil ia dipersiapkan untuk menjadi pemimpin melalui pendidikan agama, militer, bahasa, dan ilmu pengetahuan.
Karena itu, pada usia sekitar 11 tahun ia dikirim memerintah Amasya guna melatih kepemimpinan dan ketahanan politiknya. Ia bahkan sempat naik takhta pada usia 12 tahun sebelum akhirnya kembali memerintah secara penuh pada 1451 setelah wafatnya sang ayah.
Setelah kembali naik takhta di usia 19 tahun, Mehmed memusatkan perhatian pada ambisi yang telah lama menjadi cita-cita para penguasa Muslim, yakni menaklukkan Konstantinopel. Kota tersebut memiliki posisi strategis di antara Laut Marmara dan Selat Bosporus serta dikenal dengan benteng Theodosian yang selama berabad-abad sulit ditembus.
Secara historis, Konstantinopel didirikan kembali oleh Konstantinus I pada abad ke-4 sebagai ibu kota baru Romawi dan berkembang menjadi pusat politik, ekonomi, dan kebudayaan Kristen Timur. Oleh sebab itu, kota ini bukan hanya simbol kekuasaan militer, tetapi juga lambang peradaban yang dipertahankan mati-matian oleh Bizantium.
Pengepungan dimulai pada 6 April 1453 dengan strategi terpadu darat dan laut yang disiapkan secara matang. Sultan Mehmed memanfaatkan artileri berat, termasuk meriam raksasa yang dikenal dalam sumber Barat sebagai Great Turkish Bombard, untuk menghancurkan tembok pertahanan kota.
Namun demikian, hambatan terbesar datang dari rantai raksasa yang membentang di Teluk Tanduk Emas guna menghalangi armada Utsmaniyah. Sebagai respons, Mehmed memerintahkan puluhan kapal ditarik melewati daratan berbukit dengan alas kayu berlapis lemak hingga akhirnya dapat memasuki perairan di balik pertahanan Bizantium.
Langkah taktis tersebut mengubah keseimbangan pengepungan dan menekan pertahanan kota dari berbagai arah. Selain itu, serangan intensif pasukan Janisari mempercepat runtuhnya pertahanan yang telah berdiri lebih dari seribu tahun.
Pada 29 Mei 1453, pasukan Utsmaniyah berhasil menembus Konstantinopel, sementara Kaisar Bizantium terakhir, Konstantinus XI Palaiologos, gugur dalam pertempuran. Peristiwa ini secara luas dipandang sebagai penanda berakhirnya Abad Pertengahan dan awal pergeseran kekuatan politik di kawasan tersebut.
Selanjutnya, Sultan Mehmed menjadikan kota itu sebagai ibu kota baru Utsmaniyah dan kemudian dikenal sebagai Istanbul. Ia mempertahankan keberadaan komunitas Kristen Ortodoks melalui sistem administrasi yang memberi otonomi terbatas dalam urusan keagamaan dan sosial.
Di sisi lain, ia juga merevitalisasi kota dengan membangun pusat pemerintahan, pendidikan, dan perdagangan sehingga Istanbul berkembang menjadi pusat peradaban lintas budaya. Dukungan terhadap seni, arsitektur, dan ilmu pengetahuan memperkuat citranya bukan hanya sebagai penakluk, tetapi juga sebagai negarawan.
Selama masa pemerintahannya hingga 1481, wilayah Utsmaniyah meluas ke Balkan, Anatolia, dan kawasan Laut Hitam. Reformasi administrasi dan militer yang ia lakukan memperkokoh fondasi kekaisaran yang kelak bertahan hingga awal abad ke-20.
Mehmed II wafat pada 3 Mei 1481 dan dimakamkan di Istanbul, sementara takhta dilanjutkan oleh putranya, Bayezid II. Hingga kini, warisannya tetap menjadi rujukan penting dalam studi sejarah militer, politik, dan hubungan Timur–Barat.
Dengan demikian, Sultan Muhammad Al-Fatih tidak hanya dikenang sebagai penakluk Konstantinopel, melainkan sebagai arsitek perubahan geopolitik besar yang membentuk arah sejarah dunia selama berabad-abad. (*)