Ibnu al-Haitsam Sang Bapak Optik Modern (Foto: Wikipedia)
JAKARTA - Dalam sejarah ilmu pengetahuan, tidak banyak tokoh yang mampu mengubah cara manusia memahami dunia secara mendasar. Salah satu di antaranya adalah Ibnu al-Haitsam, ilmuwan Muslim abad pertengahan yang dikenal di Barat dengan nama Alhazen.
Ia bukan hanya seorang ahli fisika, tetapi juga matematikawan, filsuf, dan peneliti yang memperkenalkan pendekatan eksperimen dalam sains.
Ibnu al-Haitsam lahir sekitar tahun 965 M di Basra, wilayah yang kini termasuk Irak. Pada masa itu, Basra merupakan pusat intelektual dunia Islam. Lingkungan kota yang dipenuhi diskusi keilmuan membuatnya tumbuh dalam tradisi belajar yang kuat.
Sejak muda ia menunjukkan ketertarikan besar terhadap matematika, geometri, dan filsafat alam, bidang yang berusaha menjelaskan fenomena alam melalui penalaran rasional.
Pendidikan awalnya banyak dipengaruhi tradisi ilmiah Yunani yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Ia mempelajari karya Euclid, Ptolemaeus, serta para filsuf klasik.
Namun, Ibnu al-Haitsam tidak menerima begitu saja teori yang ada. Ia justru sering mempertanyakan gagasan lama dan berusaha membuktikannya melalui pengamatan langsung. Sikap inilah yang kemudian membedakannya dari banyak ilmuwan pada zamannya.
Kehidupan Ibnu al-Haitsam mengalami perubahan besar ketika ia pindah ke Mesir pada masa kekuasaan Dinasti Fatimiyah. Ia diundang karena gagasannya tentang kemungkinan mengendalikan banjir Sungai Nil.
Akan tetapi, setelah meneliti kondisi geografis secara langsung, ia menyadari rencana tersebut tidak dapat diwujudkan dengan teknologi saat itu.
Kondisi politik yang sensitif membuatnya memilih menarik diri dari kehidupan publik. Dalam sejumlah riwayat, ia bahkan berpura-pura mengalami gangguan mental agar terhindar dari tekanan penguasa.
Masa pengasingan inilah yang justru menjadi periode paling produktif dalam hidupnya. Ia tinggal di Kairo dan mengabdikan diri sepenuhnya pada penelitian. Di tempat tinggalnya, ia melakukan eksperimen sederhana menggunakan cahaya, cermin, dan ruang gelap.
Dari pengamatan tersebut, ia menyimpulkan bahwa penglihatan terjadi karena cahaya masuk ke mata, bukan karena mata memancarkan sinar ke objek seperti yang diyakini teori lama.
Kesimpulan ini sangat penting karena bertentangan dengan pandangan ilmuwan Yunani sebelumnya. Ibnu al-Haitsam menulis temuannya dalam karya besar berjudul Kitab al-Manazir (Buku Optik).
Dalam karya itu ia menjelaskan pembiasan cahaya, bayangan, kamera obscura, serta struktur mata manusia. Ia juga menekankan pentingnya eksperimen untuk membuktikan teori, sebuah pendekatan yang kemudian menjadi dasar metode ilmiah modern.
Pengaruh pemikirannya melampaui dunia Islam. Karya-karyanya diterjemahkan ke bahasa Latin dan dipelajari di Eropa berabad-abad kemudian. Banyak ilmuwan Barat, termasuk pada masa Renaissance, menggunakan teorinya sebagai rujukan dalam mengembangkan ilmu optika dan astronomi.
Selain sebagai ilmuwan, Ibnu al-Haitsam juga dikenal sebagai pribadi yang tekun dan sederhana. Ia menghabiskan sebagian besar hidupnya dengan membaca, menulis, dan meneliti.
Ia tidak mengejar kekuasaan maupun jabatan, melainkan lebih tertarik memahami hukum alam. Dalam pandangannya, ilmu pengetahuan harus dibangun melalui keraguan yang sehat, pengamatan, serta pembuktian rasional.
Ibnu al-Haitsam wafat sekitar tahun 1040 M di Kairo. Meski hidup lebih dari seribu tahun lalu, gagasannya tetap bertahan hingga kini. Prinsip eksperimen, observasi, dan verifikasi yang ia gunakan menjadi fondasi penelitian modern. Karena itu banyak sejarawan menyebutnya sebagai salah satu perintis metode ilmiah.