Ilustrasi - sahur saat puasa di bulan Ramadan (Foto: SHUTTERSTOCK)
JAKARTA - Sahur bukan sekadar makan sebelum imsak, tetapi persiapan tubuh menjalani puasa hampir seharian. Banyak orang merasa cepat haus bukan karena kurang minum, melainkan karena jenis makanan yang dikonsumsi saat sahur kurang tepat.
Pakar gizi menjelaskan rasa haus saat puasa sangat dipengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh.
Beberapa makanan justru mempercepat tubuh kehilangan cairan karena meningkatkan kerja ginjal, memicu buang air kecil, atau membuat tubuh menahan gula berlebih. Karena itu, memilih menu sahur yang tepat sangat penting.
Makanan seperti ikan asin, telur asin, kerupuk, mie instan, dan makanan kalengan mengandung natrium tinggi. Garam membuat tubuh membutuhkan lebih banyak air untuk menyeimbangkan cairan.
Akibatnya, tubuh cepat mengalami dehidrasi dan rasa haus muncul lebih cepat pada siang hari.
Gorengan memang praktis, tetapi kandungan lemaknya tinggi. Lemak memperlambat pencernaan dan meningkatkan rasa panas di lambung.
Efeknya, tubuh membutuhkan lebih banyak cairan untuk proses metabolisme sehingga rasa haus meningkat.
Cabai dapat merangsang produksi asam lambung dan membuat tubuh berkeringat. Keringat berarti tubuh kehilangan cairan.
Selain itu, makanan pedas juga sering memicu iritasi lambung saat puasa.
Kopi, teh pekat, dan minuman energi memiliki efek diuretik. Artinya, tubuh lebih sering buang air kecil setelah sahur.
Akibatnya, cadangan cairan tubuh berkurang sebelum siang hari tiba.
Kue manis, sirup, minuman kemasan, dan dessert saat sahur memang memberi energi cepat. Namun gula sederhana meningkatkan kadar gula darah secara mendadak lalu turun cepat.
Penurunan ini membuat tubuh terasa lemas dan memicu rasa haus lebih cepat.
Roti putih, mi instan, dan nasi putih dalam porsi berlebihan mudah dicerna sehingga energi cepat habis.
Tubuh kemudian membutuhkan cairan lebih cepat dibanding konsumsi karbohidrat kompleks seperti oatmeal atau nasi merah.