Ilustrasi berbuka puasa Ramadan (Foto: Freepik)
JAKARTA - Puasa Ramadan merupakan ibadah wajib bagi umat Islam. Secara lahiriah, puasa dilakukan dengan menahan makan, minum, dan hal-hal yang membatalkannya sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.
Tujuan utama puasa adalah membentuk ketakwaan. Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS Al-Baqarah: 183)
Para ulama, di antaranya Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, membagi orang yang berpuasa ke dalam tiga tingkatan.
1. Shaumul Awam
Tingkatan pertama adalah puasa secara lahiriah. Pada tahap ini seseorang hanya menahan makan, minum, dan hubungan suami istri di siang hari.
Secara hukum, puasanya sah. Namun nilai spiritualnya belum maksimal karena anggota tubuh lain masih melakukan perbuatan yang tidak baik, seperti berkata kasar, bergosip, atau marah.
Rasulullah SAW bersabda:
رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ
"Banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan haus." (HR Ahmad)
Hadis ini menggambarkan bahwa puasa yang hanya bersifat fisik belum tentu menghasilkan pahala sempurna.
2. Shaumul Khawas
Pada tingkatan kedua, seseorang tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menjaga anggota tubuh dari perbuatan dosa.
Ia menjaga lisan dari ucapan buruk, mata dari pandangan yang tidak baik, telinga dari hal sia-sia, serta tangan dan kaki dari perbuatan maksiat. Puasa pada tahap ini mulai menyentuh dimensi akhlak.
Rasulullah SAW bersabda:
فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ
“Apabila salah seorang dari kalian berpuasa, jangan berkata kotor dan jangan berteriak.” (HR Bukhari dan Muslim)
3. khawashul khawas
Tingkatan tertinggi adalah puasa hati. Pada tahap ini, seseorang tidak hanya menjaga fisik dan perilaku, tetapi juga menjaga hati dan pikiran dari hal yang melalaikan Allah.
Ia menghindari iri, dengki, riya, dan niat buruk. Fokusnya adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui zikir, doa, dan ibadah.
Pada tingkatan ini, puasa menjadi sarana penyucian jiwa. Seseorang bukan hanya menahan diri dari hal yang membatalkan puasa, tetapi juga dari segala sesuatu yang merusak keikhlasan.